Ubah Air Berlumpur Jadi Jernih 7000 Liter per Jam, Cara ITB Bantu Korban Bencana Aceh

06 January 2026, 16:00 WIB
Ubah Air Berlumpur Jadi Jernih 7000 Liter per Jam, Cara ITB Bantu Korban Bencana Aceh

Masyarakat terdampak bencana di Aceh membutuhkan air bersih untuk konsumsi sehari-hari. Usai banjir, air yang tersisa hanyalah air bercampur lumpur pekat yang tak layak guna.

Demi mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penyintas bencana di Kota Langsa, Provinsi Aceh, Institut Teknologi Bandung (ITB) mengirimkan bantuan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile.

ITB menilai, keterbatasan akses terhadap air bersih dan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) menjadi persoalan utama yang dihadapi warga di wilayah terdampak. Sejumlah masyarakat terpaksa tinggal di tenda pengungsian dan harus menempuh jarak cukup jauh untuk memperoleh air bersih.

IPA Mobile yang dikirimkan ITB memiliki kapasitas produksi sebesar 2 liter per detik atau sekitar 7.000 liter per jam. Dalam kondisi normal, fasilitas ini mampu melayani kebutuhan air minum dan MCK bagi sekitar 200 kepala keluarga atau setara dengan 800 orang. Pada kondisi darurat, kapasitas layanan dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1.200 hingga 1.600 orang.

Ketua Tim Kelompok Keahlian Perancangan Teknik dan Produksi, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Prof. Dr. Ir. Bagus Budiwantoro menjelaskan bahwa IPA Mobile dirancang untuk membantu masyarakat yang belum mendapatkan layanan air bersih.

"Sistem ini memanfaatkan berbagai sumber air baku, seperti sungai, danau, situ, maupun embung," kata Bagus mengutip laman resmi ITB, Selasa (6/1/2026).

Distribusi Air Bersih ke Posko-Posko Pengungsian

Pengiriman IPA Mobile merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak di lingkup ITB. Perangkat ini diberangkatkan pada Jumat (19/12/2025) melalui jalur darat menuju Pelabuhan Tanjung Priok dan selanjutnya dikirim melalui jalur laut ke Lhokseumawe, Aceh. IPA Mobile tiba pada Rabu (24/12/2025).

Setibanya di Aceh, IPA Mobile ditempatkan di kawasan Taman Krueng Langsa dengan sumber air baku dari Sungai Krueng Langsa. Dalam video yang beredar di sosial media, alat ini juga ditempatkan di sekitar sungai Tamiang dan mengubah air sungai di sana yang mulanya berwarna coklat menjadi jernih.

Penempatan perangkat telah dikoordinasikan dengan satuan kerja penanganan bencana setempat.

Air hasil pengolahan selanjutnya akan didistribusikan ke posko-posko pengungsian menggunakan mobil tangki.

Bisa Olah Berbagai Sumber Air

IPA Mobile ini mampu mengolah berbagai jenis sumber air baku sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Air hasil pengolahan juga telah memenuhi standar air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/SK/IV/2010. Meski demikian, masyarakat tetap dianjurkan untuk memasak air sebelum diminum, mengingat proses distribusi menggunakan wadah yang kebersihannya tidak sepenuhnya dapat dijamin.

"IPA Mobile ini bersifat portabel dan dirancang untuk digunakan di wilayah dengan keterbatasan akses air bersih maupun dalam kondisi darurat. Perangkat ini dikembangkan secara kolaboratif oleh tim lintas keahlian di ITB," ujar Prof. Bagus.

IPA Mobile tersebut direncanakan beroperasi di Aceh selama dua hingga tiga bulan. ITB berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak bencana serta mendukung proses pemulihan di wilayah tersebut.

Sumber : Liputan6.com