Top 3 Islami: Bolehkah Bermakmum ke Imam yang Bacaan Al-Qur'annya Tidak Fasih? Simak Buya Yahya dan Gus Baha
26 February 2025, 06:30 WIB:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4935774/original/002904800_1725380008-Buya_Yahya_dan_Gus_Baha.jpg)
Umat Islam dianjurkan untuk sholat berjamaah. Keutamaannya berkali lipat dibandingkan sholat sendirian.
Pertanyaannya, apakah boleh makmum kepada imam yang bacaan Al-Qur'an-nya tidak fasih?
Ulasan Buya Yahya mengenai hukum bermakmum kepada imam yang bacaan Al-Fatihah-nya tidak fasih menjadi artikel terpopuler di kanal Islami Liputan6.com, Selasa (25/2/2025).
Artikel kedua yang juga menyita perhatian adalah pesan Gus Baha agar jangan marah saat dikritik dan dibuka aibnya. Menurut Gus Baha, itu akan menyelamatkan di dunia dan akhirat.
Sementara, artikel ketiga yang juga menjadi sorotan pembaca adalah tentang hukum puasa Ramadhan. Bolehkah pekerja berat dari awal tidak niat puasa?
Selengkapnya, mari simak Top 3 Islami.
Advertisement
1. Bolehkah Bermakmum ke Imam yang Tak Fasih Baca Al-Fatihah, Sahkah Sholatnya? UAS dan Buya Yahya Menjawab
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4900176/original/073678500_1721809630-Screenshot_2024-07-24_152340.jpg)
Sebaik-baiknya sholat adalah yang dilakukan di masjid secara berjamaah. Pahala sholat berjamaah lebih unggul 27 derajat daripada sholat munfarid (sendirian).
Sholat berjamaah dapat dilakukan sedikitnya oleh dua orang, yang terdiri dari imam dan makmum. Imam akan memimpin sholat sejak takbiratul ihram hingga salam dan makmum di belakangnya mengikuti gerakan imam.
Secara fikih, tidak boleh sembarangan dalam memilih imam sholat. Seorang pemimpin sholat harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu.
Mengutip NU Online, kriteria imam sholat yaitu laki-laki, baligh, qari' (ahli baca Al-Qur'an), banyak hafalannya, fasih, bersuara merdu, wira'i, zuhud yang paling alim di antara kaumnya, dan yang paling dulu masuk Islam.
Salah satu kriteria imam yang ditekankan adalah mampu membaca Al-Qur'an sesuai dengan tajwid. Namun, dalam beberapa kondisi kita tidak bisa mengetahui sejak awal apakah imam sholat tersebut fasih atau tidak dalam membaca Al-Qur'an, terutama surah Al-Fatihah.
Pertanyaannya, bolehkah bermakmum kepada imam yang tidak fasih membaca Al-Fatihah? Apakah sholatnya sah? Pertanyaan ini pernah disampaikan ke Ustadz Abdul Somad dan KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya. Simak penjelasan dua ulama kharismatik tersebut di halaman selanjutnya.
Advertisement
2. Jangan Marah saat Dikritik dan Aib Dibuka, Selamatkan Kita di Dunia dan Akhirat Kata Gus Baha
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3923739/original/004119000_1643945786-5c392537-6447-44ab-84ed-681f8f206303.jpeg)
Dalam kehidupan sehari-hari, kritik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang menyakitkan. Banyak orang yang merasa tersinggung ketika kesalahannya disingkap oleh orang lain. Namun, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha justru mengajarkan sudut pandang yang berbeda.
Dalam salah satu ceramahnya, Gus Baha menegaskan bahwa kritik dan pengungkapan kesalahan justru bisa menjadi hal yang bermanfaat. Menurutnya, orang yang menerima kritik seharusnya merasa bersyukur karena itu adalah cara untuk mengetahui kekurangan diri.
"Orang itu kalau dirasani harusnya senang, karena itu aib kamu dibuka dan kamu jadi tahu," ujar Gus Baha dalam ceramahnya yang dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @takmiralmukmin.
Gus Baha menggambarkan kritik layaknya seseorang yang diberitahu tentang bahaya yang mengancam dirinya. Ia mencontohkan situasi di mana seseorang diberitahu bahwa ada kalajengking atau ular berbisa di bajunya.
"Kalau ada orang bilang, 'Baha, di baju kamu ada kalajengking atau ada ular berbisa,' kira-kira saya maturnuwun (terima kasih) apa gak? Harusnya maturnuwun, karena itu bahaya sekali kalau ada di tubuh saya," jelasnya.
Menurutnya, kritik yang didasarkan pada kesalahan nyata adalah bentuk peringatan yang dapat menyelamatkan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.
3. Ramadhan bagi Pekerja Berat, Bolehkah sejak Awal Niat Tidak Puasa? Buya Yahya Menjawab
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1582274/original/094520600_1493720186-20170502-Bulan-IHPB-JT2.jpg)
Puasa Ramadhan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, termasuk bagi mereka yang memiliki pekerjaan berat. Namun, muncul pertanyaan di kalangan pekerja yang mengandalkan tenaga fisik, seperti tukang bangunan atau pekerja tambang, mengenai hukum puasa dalam kondisi mereka.
Dalam sebuah kajian, KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, memberikan penjelasan mengenai hal ini. Buya Yahya menegaskan bahwa meskipun pekerjaannya berat, seseorang tetap wajib meniatkan puasa sejak Subuh.
"Pokoknya tetap wajib puasa, tidak ada kata maaf kecuali dalam perjalanannya saat berpuasa ia tidak mampu, maka boleh berbuka," kata Buya Yahya, yang dirangkum dari tayangan video di kanal YouTube @chobixmesemtv4476, di mana Buya Yahya menjelaskan lebih lanjut terkait teknis pelaksanaan puasa bagi pekerja berat.
Menurutnya, Islam tidak memberatkan umatnya. Jika seseorang sudah berniat berpuasa sejak Subuh, tetapi dalam perjalanan aktivitasnya merasa tidak mampu melanjutkan, maka diperbolehkan untuk berbuka.
Namun, berbeda jika seseorang sejak awal sudah tidak berniat puasa karena alasan pekerjaan berat. Dalam kondisi ini, Buya Yahya menegaskan bahwa hal tersebut termasuk perbuatan haram.