Rawat Cucu 15 Tahun, Nenek di China Minta Kompensasi Rp 1 Miliar
10 September 2026, 09:00 WIB
Seorang nenek di China menggugat anak laki-lakinya setelah 15 tahun mengasuh cucu. Dia menuntut kompensasi lebih dari 360.000 yuan atau sekitar Rp 1 miliar atas biaya dan tanggung jawab yang selama ini ditanggungnya.
Kasus yang terjadi di Shanghai ini memicu perdebatan mengenai batas tanggung jawab orangtua dan kakek-nenek dalam mengasuh anak.
Pengadilan di Shanghai pada April mengungkap kasus yang melibatkan perempuan berusia 60-an bermarga Xu dan putranya, Liang. Kasus tersebut terjadi setelah Liang bercerai pada 2014. Saat itu, putrinya baru berumur empat tahun.
Setelah perceraian tersebut, Xu mengambil sebagian besar tanggung jawab untuk membesarkan cucunya. Dia turut menanggung biaya hidup, pengobatan, hingga pendidikan anak tersebut.
Dalam gugatannya, Xu menilai putranya tidak memiliki 'rasa tanggung jawab terhadap keluarga' dan gagal menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah.
Liang membantah tudingan tersebut. Dia mengatakan telah berusaha memenuhi kebutuhan putrinya semampunya. Namun, kondisi keuangannya saat itu terbatas karena penghasilannya hanya sekitar 3.000 yuan atau sekitar Rp 6 juta per bulan, seperti dikutip dari South Morning China Postpada Kamis, 10 September 2026.
Nenek Tanggung Biaya Cucu Selama 15 Tahun
Persoalan semakin rumit setelah Liang menikah lagi dan pindah bersama istri barunya. Putrinya tetap berada dalam pengasuhan Xu.
Selama 15 tahun, Xu terus merawat cucunya. Namun, dia akhirnya merasa tidak mampu lagi menanggung beban finansial tersebut dan meminta kompensasi kepada putranya.
Kasus ini bukan satu-satunya. Pengadilan di Beijing sebelumnya mengungkap perkara ketika kakek-nenek yang sejak cucunya berumur satu tahun menanggung berbagai kebutuhannya menggugat putra dan menantu mereka. Mereka meminta penggantian biaya pengasuhan sebesar 320.000 yuan atau sekitar Rp 900 juta.
Perdebatan juga muncul karena dampak pengasuhan terhadap kesehatan lansia. Pada Agustus, seorang perempuan berumur 59 tahun di Provinsi Hunan dilaporkan kehilangan 20 kilogram berat badan setelah selama enam bulan membantu putranya merawat anak. Dia kemudian didiagnosis mengalami kecemasan.
Mengasuh Cucu Mulai Dipandang sebagai Kerja
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan di China, 'Apakah merawat cucu merupakan kewajiban keluarga atau seharusnya dipandang sebagai pekerjaan pengasuhan yang memiliki nilai?.'
Selama ini, keluarga China dikenal menjunjung tinggi dukungan antargenerasi. Nilai-nilai Konfusianisme juga menekankan kewajiban timbal balik antara anggota keluarga.
Namun, urbanisasi dan perubahan gaya hidup membuat dinamika tersebut berubah. Di daerah pedesaan, kakek-nenek semakin sering menjadi pengasuh utama anak-anak yang ditinggalkan orangtua yang bekerja di kota.
Di perkotaan, meningkatnya jumlah keluarga dengan kedua orangtua bekerja serta terbatasnya layanan penitipan anak juga membuat kakek-nenek banyak mengambil peran pengasuhan.
Akademisi bidang pekerjaan sosial dari Provinsi Hubei, Zhang Liyong, mengatakan, kompensasi terhadap kakek-nenek tidak selalu harus berbentuk uang.
"Kompensasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Keluarga dapat berbagi biaya hidup dan membangun komunikasi yang lebih terbuka. Pada saat yang sama, layanan pengasuhan anak yang disediakan pemerintah perlu diperluas," ujar Zhang.
Pakar hukum juga menilai sengketa mengenai 'biaya pengasuhan oleh kakek-nenek' bukan berarti hubungan keluarga harus dikomersialkan. Persoalan tersebut lebih berkaitan dengan upaya memperjelas tanggung jawab setiap anggota keluarga.
Pengacara di sebuah firma hukum di Shanghai, Liu Gui'e, mengatakan tanggung jawab utama membesarkan anak tetap berada di tangan orangtua. Kakek-nenek seharusnya berperan membantu ketika orangtua tidak mampu memberikan pengasuhan.