Polisi Ukraina Bongkar Penipuan Kripto, Korban di 20 Negara

07 September 2026, 15:35 WIB
Polisi Ukraina Bongkar Penipuan Kripto, Korban di 20 Negara

Polisi Ukraina dan Security Service of Ukraine (SBU) membongkar jaringan platform investasi kripto palsu yang diduga mencuri hingga US$ 1 juta atau sekitar Rp 16 miliar per bulan.

Dikutip dari CoinDesk, Senin (7/9/2026), jaringan tersebut menggunakan crypto drainer untuk menguras aset digital korban di lebih dari 20 negara. Sejauh ini, penyidik telah mengidentifikasi 62 korban.

Polisi mengatakan platform palsu itu menampilkan saldo investasi yang terus meningkat untuk meyakinkan korban bahwa dana mereka menghasilkan keuntungan.

Saat korban hendak menarik uang, mereka diminta menghubungkan dompet kripto utama dan menyetujui transaksi kecil yang seolah-olah hanya untuk pengujian.

Namun, transaksi tersebut justru memberikan akses kepada drainer untuk memindahkan seluruh aset korban ke dompet yang dikendalikan pelaku.

Modus ini tidak memerlukan seed phrase. Korban cukup menghubungkan dompet dan menyetujui satu transaksi tanpa menyadari telah memberikan kendali atas aset kripto mereka.

Lacak Server

Lacak Server

Penyidik menyebut operasi tersebut dikendalikan dari Kyiv oleh seorang spesialis teknologi informasi (IT) berusia 25 tahun. Ia diduga merekrut lebih dari 46 orang dan menjalankan beberapa kantor di Kyiv serta wilayah sekitarnya.

Tim teknis bertugas membangun dan mengelola situs investasi palsu, sementara pekerja lainnya menghubungi calon korban.

Selain menguras aset kripto, platform tersebut juga mengumpulkan data pribadi saat pendaftaran, seperti informasi paspor, nomor telepon, alamat email, data login, kata sandi, dan foto. Data itu berpotensi disalahgunakan untuk pencurian identitas dan penipuan lanjutan.

Polisi melacak perangkat server kelompok tersebut hingga ke Belanda. Penyidik kemudian memperoleh akses ke basis data yang berisi daftar korban, alamat dompet kripto, nilai aset yang diduga dicuri, serta komunikasi internal.

Korban diketahui berasal dari Jerman, Polandia, Lithuania, Latvia, Spanyol, Prancis, Inggris, Kanada, dan Israel.

Penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi korban dan pelaku lainnya.

Sumber : Liputan6.com