Flek Hitam Jadi Masalah Kulit yang Sering Dialami Orang Indonesia, Ini Penyebabnya
07 September 2026, 14:51 WIB
Flek hitam dan melasma bukan sekadar masalah kulit akibat bertambahnya usia. Tinggal di negara tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi membuat masyarakat Indonesia lebih rentan mengalami kelainan pigmentasi.
Di klinik dermatologi, kelainan pigmentasi bahkan menjadi salah satu keluhan kulit yang paling sering ditemui setelah jerawat.
Dokter spesialis dermatologi, venerologi, dan estetika, M. Akbar Wedyadhana, Sp.DVE., FINSDV., FAADV., IFAAD, mengatakan kondisi tersebut banyak ditemukan pada masyarakat Asia, termasuk Indonesia.
"Kalau di praktik kami, kasus yang paling sering ditemui nomor satu itu acne atau jerawat, nomor dua ya flek atau kelainan pigmentasi," ujar Dhana di sela-sela acara 'Healthy Skin: Rewritten at The Cellular Level' yang digelar PT Redo Marketing Indonesia pada Jumat (4/9/2026).
Bukan Cuma karena Usia
Munculnya flek memang dapat berkaitan dengan proses penuaan alami. Namun, menurut Dhana, faktor lingkungan, terutama paparan sinar matahari, justru menjadi salah satu pemicu yang dominan.
Paparan radiasi UV dapat menyebabkan photo-aging atau penuaan kulit akibat lingkungan. Kondisi ini dapat merangsang produksi melanin secara berlebihan dan akhirnya memicu munculnya flek atau hiperpigmentasi.
"Penyebabnya macam-macam ya. Kondisi tersebut bisa dikaitkan dengan proses aging atau menua secara umum, jadi muncul fleknya. Tapi, selain proses menua karena tambah usia, yang dominan adalah photo-aging, akibat pengaruh lingkungan, yang utamanya adalah karena sinar matahari," katanya.
Oleh sebab itu, tingginya paparan UV di Indonesia menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kesehatan kulit, terutama bagi orang yang memiliki kecenderungan mengalami kelainan pigmentasi.
Flek Sudah Hilang, Kok Bisa Muncul Lagi?
Masalah lain yang sering dihadapi pasien melasma adalah kekambuhan. Flek yang sudah membaik setelah menjalani perawatan dapat kembali muncul ketika kulit kembali terpapar sinar matahari dalam intensitas tinggi.
Dokter spesialis dermatologi, venerologi, dan estetika, Feilicia Henrica, Sp.D.V.E., FINSDV., mengatakan kondisi tersebut membuat pendekatan pencegahan mulai mendapat perhatian dalam dermatologi.
"Kita di Indonesia itu UV-nya kan tinggi banget paparannya, sehingga masalah flek itu menjadi sesuatu yang sering terjadi," kata Feilicia.
Salah satu pendekatan yang mulai dieksplorasi adalah photobiomodulation (PBM) atau terapi cahaya. Berdasarkan penelitian yang dirujuk Feilicia, PBM berpotensi membantu menghambat kerusakan kulit akibat paparan sinar UV.
Dengan pendekatan tersebut, terapi tidak hanya diberikan setelah flek muncul, tetapi berpotensi digunakan sebagai langkah preventif sebelum pasien menghadapi paparan UV tinggi.
"Misalnya pasien melasma pada suatu saat dia pergi jalan-jalan, lalu terpapar terus kambuh. Nah ini bisa digunakan untuk preventif, jadi mungkin kita bisa sarankan pasien untuk di-treatment dulu sebelum liburan," katanya.
Meski demikian, Feilicia menegaskan bahwa pemanfaatan PBM sebagai tindakan preventif masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Terapi Canggih Bukan Berarti Bisa Tinggalkan Skincare
Meski terapi cahaya berpotensi menjadi bagian dari strategi pencegahan, perawatan dasar kulit tetap tidak boleh ditinggalkan.
Dhana menekankan penggunaan produk topikal atau krim secara konsisten masih menjadi bagian penting dalam pemeliharaan kesehatan kulit. Terapi juga dapat diberikan secara kombinasi sesuai kebutuhan pasien.
"Kalau ditanya ke dokter kulit, pasti yang namanya basic skincare, penggunaan topikal atau krim, itu memang wajib sebagai maintenance atau pemeliharaan," ujarnya.
Menurut Dhana, kombinasi terapi, misalnya light therapy dengan perawatan topikal, dapat menjadi pendekatan untuk membantu mempertahankan hasil perawatan.
"Terutama terapi kombinasi itu tetap paling baik. Jadi misalnya dikombinasi antara light (therapy) dengan krim. Topikal tetap harus dipakai sebagai pemeliharaan," pungkasnya.