Diet Ekstrem Bisa Berdampak pada Kesehatan Sendi Lutut
31 August 2026, 14:43 WIB
Hubungan antara kelebihan berat badan dan kerusakan sendi lutut atau osteoartritis (OA) sangat erat. Setiap kilogram berat badan ekstra dapat menambah beban mekanis pada sendi yang menopang tubuh.
Karena itu, orang dengan overweight maupun obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteoartritis lutut. Penurunan berat badan menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi tekanan pada sendi sekaligus membantu meredakan peradangan.
Namun, penurunan berat badan perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Diet ekstrem, penggunaan teh "detox" secara sembarangan, atau pemangkasan kalori secara drastis justru dapat mengurangi cairan tubuh dan massa otot. Kondisi ini berpotensi mengganggu kekuatan serta stabilitas sendi.
Fat LossBukan Sekadar Turun Angka Timbangan
Saat menjalani program penurunan berat badan, fokus sebaiknya bukan hanya mengejar angka di timbangan, tetapi mengurangi massa lemak atau fat loss sambil mempertahankan massa otot.
Penurunan berat badan yang terlalu cepat tidak selalu berarti lemak tubuh berkurang. Berat yang hilang bisa berasal dari cairan tubuh dan massa otot.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, Andhika Raspati, Sp. KO, mengatakan salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah hilangnya massa otot. Ketika massa otot berkurang, kekuatan tubuh ikut menurun dan seseorang bisa lebih mudah mengalami kelelahan serta nyeri otot.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi stabilitas sendi. "Sendinya jadi goyang. Jadi nggak stabil. Ada risiko orang karena otot itu adalah muscle weakness, atau kelemahan otot," ujar Andhika dalam diskusi 'Memahami Hubungan Obesitas, Osteoarthritis Lutut, dan Kualitas Hidup' yang digelar Novo Nordisk Indonesia pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Andhika juga mengingatkan penggunaan produk 'detox' secara sembarangan, terutama yang mengandung zat diuretik. Zat tersebut dapat meningkatkan produksi urine sehingga tubuh kehilangan lebih banyak cairan.
Memang, berkurangnya cairan tubuh dapat membuat angka di timbangan turun dengan cepat. Namun, kondisi tersebut bukan berarti lemak tubuh benar-benar berkurang.
"Tubuh kita kan 70 persen air. Air yang dikeluarkan pasti (jadi) kurus lah. Tapi juga ginjalnya juga akan kurus. Makanya kenapa, bisa kita bilang, kalau turun drastis gara-gara cairannya hilang, itu jadi malah jadi penyakit, jadi malah bikin bahaya," kata Andhika.
Penurunan Berat Badan Perlu Disertai Latihan Fisik
Penurunan berat badan yang sehat tidak hanya mengandalkan pengaturan pola makan. Asupan nutrisi yang seimbang, termasuk protein yang cukup, perlu dikombinasikan dengan latihan fisik yang sesuai kondisi tubuh.
Untuk orang yang memiliki masalah pada lutut, Andhika menyarankan latihan kardio low-impact, seperti bersepeda statis dan berenang. Aktivitas tersebut dapat membantu membakar kalori tanpa memberikan hentakan besar pada lutut.
Latihan kekuatan juga penting, terutama untuk memperkuat otot-otot besar seperti paha dan bokong yang berperan dalam menopang dan menstabilkan sendi.
"Jadi kalau kita lagi program weight loss, saya pribadi lebih senang menyebutnya dengan program fat loss. Karena sometimes, fat loss itu weight-nya nggak loss-loss amat. Tadi diganti sama massa otot, kan... keberhasilannya bukan cuma dari angka timbangan aja," tambahnya.
Dengan demikian, penurunan berat badan untuk membantu mengurangi risiko osteoartritis bukan soal seberapa cepat angka timbangan turun. Yang lebih penting adalah komposisi tubuh yang lebih sehat, massa otot tetap terjaga, dan massa lemak berkurang.
"Jadi, dengan menurunkan berat badan, which is kita panggilnya fat loss ya. Maka satu, beban di lutut berkurang. Kedua, otot-otot yang terbentuk membantu menstabilkan sendi, buat bergerak lebih enak, dan otot lebih strong. Selain itu, lemak turun bisa menurunkan inflamasi juga," ujarnya.
Hubungan Obesitas dan Osteoartritis Lutut
Osteoartritis merupakan kondisi yang ditandai dengan kerusakan pada tulang rawan dan jaringan di sekitar sendi. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai persendian, termasuk tangan, panggul, dan lutut.
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, Ihsan Oesman, Sp. OT (K), menjelaskan bahwa lutut memiliki peran penting sebagai salah satu bagian tubuh yang menopang beban badan.
"Osteoartritis bisa mengenai berbagai sendi dalam tubuh. Khususnya pada lutut, dia sifatnya menopang sebagian besar titik tumpu badan," ujar Ihsan.
Sementara itu, Assoc. Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, mengatakan obesitas merupakan salah satu faktor risiko osteoartritis lutut.
Menurutnya, semakin besar berat dan beban tubuh, semakin besar pula beban yang harus ditanggung lutut. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi fungsi dan kekuatan sendi.
"Nah, faktor risiko obesitas itu kenapa menjadi berkaitan dengan OA pada lutut? Karena pada berat beban berlebih, beban pada lutut juga akan bertambah. Kemudian dampaknya pada kekuatan lutut juga pasti akan bertambah," ujar Riyanny.