Google dan OpenAI Serukan Perkuat Keamanan Siber, Serangan AI Makin Bahaya

29 August 2026, 18:08 WIB
Google dan OpenAI Serukan Perkuat Keamanan Siber, Serangan AI Makin Bahaya

Lebih dari 100 perusahaan dan organisasi menyerukan peningkatan pertahanan siber untuk menghadapi ancaman serangan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Dikutip dari Gizmodo, Sabtu (29/8/2026), perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, Google, Microsoft, Amazon, dan Oracle menandatangani surat terbuka yang meminta dilakukan global surge in cyber defense. Mereka memperingatkan serangan siber berbasis AI akan semakin luas dan canggih dalam beberapa bulan mendatang.

Kelompok tersebut menilai perkembangan kemampuan AI membuat pelaku serangan siber dapat memperoleh kemampuan yang sebelumnya membutuhkan keahlian khusus.

Rumah sakit, fasilitas pengolahan air, hingga infrastruktur yang mendukung internet berpotensi menjadi layanan yang ditargetkan.

Karena itu, organisasi diminta segera memperbaiki celah keamanan berisiko tinggi dan mengganti sistem yang sudah usang.

Mereka juga didorong menggunakan AI untuk membantu menemukan serta menangani persoalan keamanan yang sulit ditangani dengan cara konvensional.

Perusahaan keamanan siber diminta terus menguji sistem pertahanannya dengan kemampuan model AI terbaru.

Sementara pemerintah diminta memperkuat kerja sama pertahanan siber, meningkatkan pendanaan, dan memperluas akses terbatas terhadap model AI canggih bagi organisasi yang membutuhkan.

AI Juga Diminta Jadi Senjata Pertahanan

AI Juga Diminta Jadi Senjata Pertahanan

Dalam surat terbuka yang sempat disebut, perusahaan AI justru diminta memberikan akses model, pendanaan, pelatihan, dan dukungan kepada pihak yang melindungi infrastruktur penting tetapi memiliki sumber daya terbatas.

Seruan ini muncul setelah aliansi Five Eyes memperingatkan pada Juni 2026, AI dapat mempercepat serangan dan meningkatkan tingkat kerumitannya. Badan keamanan dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru menilai perubahan besar dapat terjadi dalam hitungan bulan.

Ancaman terhadap infrastruktur penting juga mulai terlihat. Otoritas AS sebelumnya memperingatkan serangan terhadap sistem pengolahan air dan perangkat industri yang terhubung ke internet.

Dalam salah satu kasus, lembaga keamanan mengatakan pelaku menggunakan program berbasis AI untuk memanfaatkan kelemahan sistem, lalu menyamarkannya seolah-olah sebagai alat pemantauan.

Kondisi tersebut membuat perusahaan teknologi dan pemerintah menghadapi persoalan yang sama. AI dapat digunakan untuk menyerang sekaligus mempertahankan sistem digital.

Karenanya, lebih dari 100 organisasi tersebut mendorong pertahanan siber diperkuat sekarang, sebelum kemampuan AI yang semakin canggih membuat serangan menjadi lebih cepat dan sulit dihentikan.

Sumber : Liputan6.com