Cara Berpikir Ternyata Bisa Memengaruhi Stres dan Kesehatan
25 August 2026, 12:00 WIB
Cara seseorang memandang suatu masalah dapat memengaruhi bagaimana dia menghadapi stres dan kecemasan. Sikap optimistis serta kebiasaan berpikir positif (positive thinking) menjadi bagian penting dalam pengelolaan stres yang efektif.
Optimisme dan pesimisme juga dapat berkaitan dengan kesehatan serta kesejahteraan seseorang. Namun, positive thinking bukan berarti mengabaikan situasi yang tidak menyenangkan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Melansir Mayo Clinic, Senin (24/8/2026), berpikir positif berarti menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan cara yang lebih lembut dan produktif. Kebiasaan tersebut sering kali dimulai dari self-talk atau dialog batin, yaitu aliran pikiran yang muncul dalam diri seseorang.
Pikiran otomatis dapat bersifat positif maupun negatif. Sebagian muncul berdasarkan logika, sementara lainnya dapat terbentuk akibat kesalahpahaman, kurangnya informasi, atau asumsi mengenai apa yang akan terjadi.
Berpikir Positif untuk Kesehatan
Sejumlah penelitian menemukan kemungkinan manfaat berpikir positif dan optimisme terhadap kesehatan. Beberapa di antaranya meliputi tingkat depresi dan tekanan psikologis yang lebih rendah, kemampuan menghadapi masa sulit yang lebih baik, serta peningkatan kesejahteraan psikologis dan fisik.
Berpikir positif juga dikaitkan dengan kesehatan kardiovaskular yang lebih baik. Selain itu, optimisme dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan stroke yang lebih rendah. Beberapa penelitian juga menemukan kaitan antara pola pikir positif dan risiko kematian yang lebih rendah akibat kanker, gangguan pernapasan, serta infeksi.
Meski demikian, alasan pasti di balik kaitan tersebut belum sepenuhnya diketahui. Salah satu teorinya adalah pandangan positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi penuh tekanan dengan lebih baik sehingga mengurangi dampak buruk stres terhadap tubuh.
Kenali Pola Pikiran Negatif
Sebelum melatih pola pikir positif, seseorang dapat mulai dengan mengenali bentuk self-talk negatif yang muncul dalam keseharian. Beberapa di antaranya:
- Filtering, yaitu hanya berfokus pada sisi buruk dari suatu kondisi.
- Personalizing, ketika seseorang langsung menyalahkan diri sendiri atas suatu kejadian.
- Catastrophizing, yaitu selalu memperkirakan kemungkinan terburuk tanpa bukti yang jelas dan mendukung.
Selain itu, pola pikir negatif juga dapat berupa kebiasaan membesar-besarkan masalah kecil, menetapkan standar yang tidak mungkin dicapai, bersikap terlalu perfeksionis, serta melihat segala sesuatu secara hitam-putih tanpa mempertimbangkan kemungkinan yang lebih realistis.
Cara Melatih Pikiran Lebih Positif
Seseorang dapat memulai dengan memilih satu aspek dalam kehidupan sehari-hari yang paling sering memicu pikiran negatif. Selanjutnya, periksa pola pikir tersebut secara berkala dan cobalah melihat situasi dari sudut pandang yang lebih positif serta membangun.
Pola pikir positif juga dapat dilatih dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, tidur yang cukup, mencari hal-hal yang dapat mengundang tawa dalam keseharian, serta berada di lingkungan yang suportif.
Selain itu, positive self-talk dapat dilatih dengan berhenti mengatakan sesuatu kepada diri sendiri yang sebenarnya tidak akan dikatakan kepada orang lain.
Perlu diingat, mengubah pola pikir dari sesuatu yang tidak nyaman menjadi lebih positif membutuhkan waktu dan latihan.
Seseorang tidak perlu langsung menjadi optimistis. Perubahan dapat dimulai secara bertahap dengan mengurangi kritik keras dan kebiasaan menyalahkan diri sendiri hingga akhirnya mampu mencapai penerimaan diri (self-acceptance).