Modal Rp 1 Juta, Pilih Saham Fundamental Baik atau LQ45?
17 July 2026, 06:00 WIB
Investor pemula yang baru memulai investasi di pasar saham dengan modal Rp 1 juta tetap memiliki peluang membangun portofolio berkualitas. Kunci utamanya bukan terletak pada besarnya modal, melainkan memilih emiten dengan fundamental yang kuat serta membeli pada valuasi yang menarik.
Analis Pasar Modal sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan, modal yang terbatas tidak menjadi hambatan untuk berinvestasi di saham-saham unggulan. Dia menuturkan, investor justru perlu lebih mengutamakan kualitas perusahaan dibandingkan mengejar saham dengan harga murah.
Elandry menjelaskan, dengan modal Rp 1 juta, investor pemula dapat mempertimbangkan saham-saham sektor perbankan antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
"Dengan modal Rp 1 juta, menurut saya investor pemula dapat mempertimbangkan saham-saham berfundamental kuat seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI di sektor perbankan karena didukung kinerja yang relatif stabil dan likuiditas yang tinggi," kata Elandry kepada Liputan6.com, Jumat (17/7/2026).
Menurut dia, keempat saham tersebut didukung fundamental yang kuat, kinerja yang relatif stabil, serta memiliki likuiditas tinggi sehingga menjadi pilihan yang layak bagi investor yang baru memasuki pasar modal.
Sektor Konsumsi
Selain sektor perbankan, Elandry juga menilai saham sektor konsumsi seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menarik untuk dikoleksi karena memiliki karakter bisnis yang defensif sehingga cenderung lebih tahan terhadap gejolak ekonomi.
Sementara itu, bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi, ia menyarankan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebagai pelengkap portofolio (hedging). Menurutnya, sektor energi berpotensi memperoleh sentimen positif apabila ketegangan geopolitik atau konflik global memicu kenaikan harga minyak.
"Yang terpenting bukan nominal harga saham, melainkan kualitas fundamental perusahaan, valuasi yang masih wajar, serta menyesuaikan pilihan investasi dengan profil risiko masing-masing," ujarnya.
Saham Indeks LQ45 atau Berfundamental Kuat
Elandry menilai, investor tidak perlu menjadikan status suatu saham sebagai anggota indeks LQ45 sebagai pertimbangan utama dalam berinvestasi. Dia menuturkan, fokus utama tetap harus diarahkan pada fundamental perusahaan.
Meski saham yang masuk LQ45 umumnya memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, hal tersebut tidak otomatis membuatnya selalu menarik untuk dibeli. Ia menambahkan, investor tetap harus memperhatikan harga masuk (entry point) agar potensi imbal hasil yang diperoleh lebih optimal.
"Menurut saya, fokus utama sebaiknya tetap pada fundamental perusahaan. Masuk ke dalam indeks LQ45 memang menjadi nilai tambah karena umumnya mencerminkan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang besar, namun tidak semua saham LQ45 selalu menarik untuk dibeli jika valuasinya sudah terlalu mahal. Investor tetap perlu memperhatikan harga masuk (entry point) agar potensi imbal hasil lebih optimal," pungkasnya.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.