Penyintas Gempa Venezuela: Ibu Membeku Ketakutan, Anak Sigap Menggendong
26 June 2026, 11:51 WIB
Sebastian Rodriguez (18) tak sempat memikirkan apa pun saat dua gempa mengguncang pesisir utara Venezuela pada Rabu (24/6) petang waktu setempat. Melihat ibunya tak mampu bergerak karena ketakutan, ia langsung menggendongnya keluar.
"Sangat mengerikan. Rasanya bangunan berguncang begitu hebat. Saya harus menggendong ibu keluar karena dia sampai tak bisa bergerak akibat ketakutan," ujar Rodrguez seperti dikutip The Guardian.
Rodriguez berasal dari keluarga yang mengelola sebuah toko di Centro Plaza, pusat perbelanjaan bergaya brutalis di kawasan elite Los Palos Grandes, Caracas. Bangunan pusat perbelanjaan itu lolos dari kerusakan besar, tetapi kawasan di sekitarnya mengalami kerusakan yang jauh lebih parah.
Beruntung, Centro Plaza yang dibangun dengan struktur beton bertulang lolos dari kerusakan besar. Namun, bangunan-bangunan di sekitarnya tidak seberuntung itu.
Sedikitnya tiga bangunan di Los Palos Grandes dan kawasan tetangganya, Altamira, ambruk setelah dua gempa magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang hanya selang kurang satu menit, tak lama setelah pukul 18.00 waktu setempat.
Menjelang malam, petugas penyelamat, relawan, dan keluarga korban berdatangan ke lokasi runtuhan dengan harapan masih ada penyintas yang bisa ditemukan di balik timbunan beton dan baja.
"Reruntuhannya begitu banyak," kata Jessica Galvis (33) dokter spesialis perawatan intensif yang menunggu kabar di depan sebuah gedung enam lantai yang roboh.
Ia meyakini seorang teman perempuannya masih tertimbun di bawah puing-puing.
Di lokasi lain, Jose Morillo (61), mengaku langsung memacu sepeda motornya melintasi kota sambil terus berdoa agar anggota keluarganya yang terjebak dapat ditemukan selamat.
"Saudara laki-laki saya, anak saya, dan keponakan-keponakan saya semuanya masih di dalam," ujarnya.
Tak lama kemudian, salah seorang kerabat perempuannya berhasil dievakuasi dari reruntuhan dalam keadaan masih hidup.
Kerusakan juga melanda kawasan permukiman kelas pekerja seperti Catia, yang selama ini telah dibebani salah satu krisis ekonomi masa damai terburuk dalam sejarah modern Venezuela.
"Dinding rumah saya runtuh. Air juga mulai masuk dari atap," kata Jose Luis, guru pendidikan jasmani yang tinggal di Catia dan menjadi salah satu dari banyak warga yang kehilangan tempat tinggal.
"Gempa terasa sangat lama dan menghancurkan semuanya."
Luis mengaku tak berani kembali masuk ke rumahnya. Seperti banyak warga Caracas lainnya, ia memilih bermalam di ruang terbuka dengan beralaskan kasur, kardus, atau tenda darurat.
"Pemerintah harus mengirim petugas, pemadam kebakaran. Kalau terjadi gempa lagi sebesar tadi, bangunan ini pasti roboh. Itulah yang kami semua takutkan," ujarnya.
Warga lain, Isra Colmenares (58), juga menggambarkan dahsyatnya guncangan gempa kedua. Menurutnya, bangunan tempat ia tinggal bergoyang keras ketika bumi kembali bergetar.
Gempa tersebut merupakan yang terkuat di Venezuela sejak gempa bermagnitudo 7,7 pada 1900.
"Itu pengalaman yang benar-benar mengerikan. Seumur hidup, baru kali ini saya merasakan gempa sekuat itu," kata Colmenares.
Di kaki Gunung Avila, kawasan Altamira dan Los Palos Grandes merupakan permukiman kalangan berada di Caracas. Di wilayah itu juga berdiri sejumlah hotel, restoran, serta kantor perwakilan negara asing, termasuk Kedutaan Besar Inggris, Jerman, dan Brasil.
Pesisir Venezuela Porak-poranda
Jika Caracas mengalami kerusakan yang begitu besar, kondisi di wilayah pesisir yang berjarak sekitar 45 menit berkendara ke arah utara dilaporkan lebih parah.
Bandara internasional di kota pelabuhan La Guaira ditutup setelah mengalami kerusakan berat, yang diperkirakan akan menghambat penyaluran bantuan kemanusiaan. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan penumpang berlarian menyelamatkan diri ketika atap terminal mulai runtuh hingga menyelimuti area bandara dengan debu.
Di sekitar lokasi, puluhan gedung bertingkat ambruk, termasuk sedikitnya satu hotel di tepi pantai.
Saat gempa terjadi, wilayah pesisir itu masih berusaha bangkit dari dampak keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang melancarkan invasi singkat untuk menculik Presiden Venezuela NicolAs Maduro pada 3 Januari lalu. Saat itu, sejumlah bangunan di Catia La Mar, kota pesisir di sebelah barat La Guaira, rusak akibat serangan rudal udara-ke-permukaan AS yang menghantam sistem pertahanan dan radar di sepanjang pantai. Serangan tersebut membuka jalan bagi pasukan khusus yang diterbangkan dengan helikopter menuju Caracas untuk menangkap Maduro.
Pada Rabu, kawasan yang sama kembali diterpa bencana. Jalur komunikasi yang terputus membuat upaya menghubungi warga setempat belum membuahkan hasil sehingga kondisi mereka masih belum diketahui.
Hingga Kamis (25/6) pagi, jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 200 orang dan diperkirakan masih akan terus bertambah.
Melalui media sosial, Trump memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan sangat besar.
"Akan ada jumlah korban jiwa yang sangat besar," tulis Trump. "Kami akan berada di sana untuk teman-teman baru kami yang luar biasa."
Media sosial juga dipenuhi unggahan foto warga yang dilaporkan hilang, banyak di antaranya berasal dari kawasan pesisir antara bandara dan Catia La Mar. Di antaranya Brayne, bocah laki-laki berusia delapan tahun, serta Miranda, anak perempuan berusia lima tahun.
Di sebuah rumah, lima anggota keluarga juga dilaporkan hilang, yakni Luisa, ngel, Carmen, Yepxalit, dan Andrea.
Di tengah duka yang menyelimuti, secercah harapan masih muncul. Sekitar pukul 01.30 dini hari, tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga bersaudara yang tertimbun reruntuhan sebuah bangunan di La Guaira.
"Tuhan, Engkau Maha Besar!" seru seorang warga saat ketiga anak itu berhasil dikeluarkan dari timbunan beton.