Coinbase Sita Kripto USD 3 Juta Terkait Sindikat Penipuan Online
05 June 2026, 06:00 WIB
Bursa aset kripto Coinbase mengumumkan telah membekukan lebih dari USD 3 juta atau sekitar Rp 54 miliar (asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS) dalam bentuk aset kripto yang diduga terkait jaringan penipuan siber yang beroperasi dari Asia Tenggara.
Dikutip dari CoinMarketCap, Jumat (4/6/2026), langkah tersebut dilakukan dalam rangkaian kegiatan Disruption Week yang dikoordinasikan oleh Scam Center Strike Force, satuan tugas di bawah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) yang berfokus pada pemberantasan pusat-pusat penipuan dan infrastruktur keuangannya.
Operasi ini melibatkan kerja sama erat antara lembaga pemerintah dan perusahaan swasta. Selain Coinbase, sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Meta, Microsoft, dan Starlink juga ikut berpartisipasi.
Menurut Departemen Kehakiman AS, operasi tersebut bertujuan mencegah berbagai bentuk penipuan berbasis kripto yang menyasar warga Amerika Serikat.
Perusahaan-perusahaan yang terlibat membantu menonaktifkan server dan infrastruktur digital yang digunakan sindikat penipuan. Mereka juga menindak aktivitas ilegal yang dilakukan melalui media sosial maupun akun email.
"Coinbase menegaskan bahwa tidak mungkin satu perusahaan atau satu lembaga saja dapat mengalahkan para pelaku penipuan. Operasi ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor," demikian pernyataan perusahaan.
Hasil operasi menunjukkan lebih dari 1,4 juta akun media sosial dan email yang terkait aktivitas kriminal berhasil diganggu atau ditindak. Operasi tersebut juga berujung pada sejumlah penangkapan yang dilakukan oleh Royal Thai Police Cyber Fraud Taskforce di Thailand.
Kerugian Akibat Penipuan Kripto Tembus USD 11 Miliar
Departemen Kehakiman AS menyoroti bahwa penipuan berkedok investasi menjadi salah satu bentuk kejahatan yang paling cepat berkembang dan paling merugikan masyarakat Amerika.
Berdasarkan data Biro Investigasi Federal (FBI) yang dirilis awal bulan ini, total kerugian akibat penipuan yang melibatkan aset kripto dan kecerdasan buatan (AI) mencapai lebih dari USD 11 miliar sepanjang 2025.
Dari jumlah tersebut, penipuan investasi menjadi penyumbang kerugian terbesar.
Scam Center Strike Force sendiri merupakan struktur khusus yang dibentuk Departemen Kehakiman AS untuk mengoordinasikan berbagai lembaga dalam memburu pusat-pusat penipuan dan aliran dana hasil kejahatan.
Salah satu keunggulan aset kripto dalam proses investigasi adalah sifat blockchain yang transparan dan tidak dapat diubah.
"Coinbase mencatat bahwa meski kripto terkadang mendapat reputasi buruk terkait kejahatan keuangan, teknologi blockchain justru menyediakan catatan transaksi yang transparan, permanen, dan tidak dapat dimanipulasi sehingga membantu aparat penegak hukum."
Karena seluruh transaksi tercatat secara publik di blockchain, penyidik sering kali lebih mudah melacak aliran dana ilegal dibandingkan pada sistem keuangan tradisional tertentu.
Operasi Penindakan Penipuan Kripto Meningkat Sepanjang 2026
Operasi terbaru ini melibatkan berbagai lembaga penegak hukum internasional, termasuk FBI, Secret Service AS, serta aparat dari Inggris, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Thailand.
Meta menyebut informasi intelijen yang dikumpulkan selama operasi membantu menggabungkan data yang sebelumnya tersebar di berbagai platform. Hal ini memungkinkan aparat mengidentifikasi jaringan kriminal secara lebih menyeluruh.
Peningkatan penindakan terhadap infrastruktur penipuan berbasis kripto juga terlihat sepanjang tahun ini.
Pada April 2026, Scam Center Strike Force bersama mitranya berhasil membekukan aset kripto senilai lebih dari USD 701 juta yang terkait dengan penipuan investasi.
Operasi terbaru dianggap sebagai kelanjutan dari berbagai upaya tersebut.
Di sisi lain, operasi internasional yang dipimpin Kepolisian Dubai baru-baru ini juga berhasil menangkap 276 orang dan menutup sedikitnya sembilan pusat penipuan kripto.
Sementara itu, otoritas Austria dan Albania dengan dukungan Europol serta Eurojust menangkap 10 orang yang diduga terlibat dalam tiga pusat operasi penipuan yang berlokasi di Tirana, Albania.