Rangkaian Peringatan Waisak di Borobudur 2026: Harmoni Spiritual dan Budaya

28 May 2026, 11:00 WIB
Rangkaian Peringatan Waisak di Borobudur 2026: Harmoni Spiritual dan Budaya

Peringatan Waisak di Borobudur selalu menjadi momen yang dinanti umat Buddha maupun wisatawan dari berbagai daerah. Pada tahun 2026, suasana sakral akan kembali menyelimuti kawasan Candi Borobudur dengan rangkaian kegiatan spiritual yang penuh makna, mulai dari doa bersama, kirab suci, hingga pelepasan lampion yang memukau. Perayaan ini bukan hanya menjadi simbol penghormatan terhadap ajaran Buddha, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya dan toleransi yang hidup di Indonesia.

Rangkaian acara Waisak di Borobudur menghadirkan perpaduan harmonis antara nilai religius dan tradisi budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Ribuan umat tampak khusyuk mengikuti prosesi ibadah, sementara masyarakat umum dan wisatawan turut merasakan atmosfer damai yang tercipta di sekitar kompleks candi. Keindahan arsitektur Borobudur yang megah semakin menambah kesan spiritual dalam setiap prosesi yang berlangsung.

Tidak hanya menjadi agenda keagamaan, peringatan Waisak 2026 di Borobudur juga menjadi daya tarik budaya dan pariwisata berskala internasional. Beragam kegiatan pendukung seperti pertunjukan seni, pameran budaya, hingga wisata spiritual turut memeriahkan perayaan tersebut. Harmoni antara spiritualitas, budaya, dan kebersamaan inilah yang menjadikan Waisak di Borobudur selalu memiliki daya tarik istimewa setiap tahunnya. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Kamis (28/05/2026).

Perjalanan Suci Biksu: Indonesia Walk For Peace (IWFP)

Perjalanan Suci Biksu: Indonesia Walk For Peace (IWFP)

Rangkaian perayaan Waisak di Borobudur diawali dengan perjalanan spiritual para biksu yang dikenal sebagai Indonesia Walk For Peace (IWFP). Pada perayaan Waisak 2570 BE/2026, terdapat perubahan signifikan dalam ritual perjalanan ini. Tidak seperti tahun sebelumnya, perjalanan kaki para biksu dari berbagai negara di Asia Tenggara kali ini dimulai dari Bali dan berakhir di Borobudur.

Jarak perjalanan biksu dari Bali ke Candi Borobudur diperkirakan mencapai 666 km, dimulai dari Brahmavihara-Arama, Buleleng, Bali pada 9 Mei 2026. Sepanjang perjalanan, masyarakat dari berbagai daerah diberikan kesempatan untuk menyambut para biksu. Sambutan ini dapat berupa kirab budaya, doa bersama, hingga berbagai kegiatan sosial yang melibatkan komunitas lokal.

Salah satu makna penting dari perjalanan biksu ini adalah kesederhanaan hidup yang tercermin dari perlengkapan seperlunya yang mereka bawa. Ritual ini juga mengajarkan nilai-nilai kesabaran, kerukunan, dan ketahanan mental, melambangkan perjalanan spiritual manusia. Para Bhikkhu dijadwalkan tiba pada 28 Mei 2026 di area Candi Borobudur, dengan prosesi penyambutan pada 30 Mei 2026 pukul 08:00 pagi.

Prosesi Seremonial Waisak yang Sakral

Prosesi Seremonial Waisak yang Sakral

Rangkaian upacara pada hari raya Trisuci Waisak dimulai sejak dini hari dengan San Bu Yi Bai pada pukul 03:30. Kegiatan ini menandai awal dari serangkaian ritual keagamaan yang mendalam dan penuh makna. Setelah San Bu Yi Bai, prosesi dilanjutkan dengan Kirab Parade Budaya yang bergerak menuju Candi Borobudur pada pukul 12:00.

Doa-doa dan meditasi detik-detik Waisak tahun 2026 dilaksanakan pada pukul 15:44 WIB, menjadi puncak perayaan yang sakral. Momen ini menjadi waktu bagi umat Buddha untuk memusatkan perhatian pada ajaran-ajaran Buddha. Setelah detik-detik Waisak, rangkaian acara dilanjutkan dengan doa dan pradaksina yang berlangsung hingga menjelang Pelepasan Lentera Perdamaian sesi I pada pukul 18:00.

Dharmasanti atau seremonial Waisak 2570 BE tahun 2026 akan dimulai pukul 19:30 WIB hingga menjelang pelepasan lentera perdamaian sesi II. Acara Dharmasanti ini menjadi penutup resmi dari rangkaian upacara seremonial Waisak. Ini memberikan kesempatan bagi umat untuk merayakan kebersamaan dan kedamaian setelah menjalani serangkaian ritual spiritual.

Kedamaian dalam Pelepasan Lampion

Kedamaian dalam Pelepasan Lampion

Salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat luas dalam rangkaian perayaan Waisak di Borobudur adalah Malam Lampion atau Pelepasan Lentera Perdamaian. Malam ini dipenuhi dengan doa dan pengharapan untuk terciptanya dunia yang lebih damai. Suasana tenang dan magis tercipta saat ribuan lampion mulai beterbangan ke angkasa, menciptakan pemandangan yang memukau.

Perayaan ini bukan sekadar momen menerbangkan lampion ke langit, melainkan memiliki makna spiritual mendalam pada setiap cahaya yang beterbangan. Dalam ajaran Buddha, cahaya yang dipancarkan oleh lampion tersebut melambangkan penerangan terhadap kegelapan batin manusia. Ini adalah simbol pembebasan dari sifat-sifat negatif seperti keserakahan, kebodohan, dan kemarahan.

Penerbangan lentera ini menjadi magnet yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi Candi Borobudur. Acara ini hadir dalam dua sesi, yaitu pukul 18.00 WIB dan 22.00 WIB. Momen pelepasan lentera ini tidak hanya dapat diikuti oleh peserta yang menerbangkannya secara langsung, tetapi pengunjung juga bisa menyaksikannya dari dekat atau dari area tribun yang disediakan.

Kehangatan dalam Sunrise Pradaksina dan Meditasi

Kehangatan dalam Sunrise Pradaksina dan Meditasi

Rangkaian acara Waisak di Borobudur tidak berakhir dengan Penerbangan Lampion, melainkan berlanjut dengan pengalaman spiritual unik lainnya. Jelang matahari terbit pada 1 Juni 2026, pengunjung dapat memulai hari dengan mengikuti rangkaian Maha Kuthagara Pradaksina di atas Candi Borobudur. Perjalanan spiritual ini terinspirasi dari kisah Sudhana yang mencari pencerahan.

Sudhana mencari pencerahan dengan mengitari mandala bangunan Vairocanavyuhalamkaragarbha Kutagara, yang merupakan kediaman bagi mereka yang damai. Dalam Sunrise Pradaksina, peserta akan diajak mengelilingi Candi Borobudur dengan berjalan kaki searah jarum jam ketika matahari terbit. Ritual ini menawarkan pengalaman spiritual yang unik, memungkinkan peserta terhubung dengan keindahan arsitektur candi dan sejarahnya.

Ini adalah cara yang mendalam untuk memulai hari dengan refleksi dan mencari kedamaian batin. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan meditasi, singing bowl, dan chanting bersama. Seluruh rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk membebaskan diri dari konflik batin, serta membimbing peserta menuju ketenangan dan kedamaian internal.

Keramaian Pasar Medang Waisak

Keramaian Pasar Medang Waisak

Untuk mendukung pengunjung yang mengikuti berbagai rangkaian acara Waisak di Borobudur, terdapat area pasar rakyat yang dikenal sebagai Pasar Medang Borobudur. Pasar ini menjadi pusat kegiatan non-religius yang turut meramaikan perayaan Waisak. Ini adalah tempat berkumpulnya masyarakat lokal dan wisatawan, menciptakan suasana yang hidup dan penuh kegembiraan.

Di Pasar Medang, pengunjung akan menemukan berbagai sajian kuliner lezat dari pedagang Kampung Seni Borobudur hingga UMKM di sekitar area Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pengunjung dapat menikmati beragam hidangan lokal dan mencicipi kekayaan kuliner daerah. Kehadiran UMKM juga turut mendukung perekonomian lokal secara signifikan.

Selain kuliner, pengunjung juga bisa menikmati pertunjukkan budaya yang menarik, serta berbagai buah tangan hasil karya pedagang di Borobudur. Pasar Medang akan beroperasi mulai tanggal 29--30 Mei 2026 di Area Candi Borobudur, menambah semarak suasana perayaan Waisak dengan berbagai hiburan dan produk lokal.

Daya Tarik Internasional Waisak 2026

Daya Tarik Internasional Waisak 2026

Perayaan Waisak 2026 di Candi Borobudur dipastikan akan digelar dengan skala besar, puncaknya pada 31 Mei 2026. Persiapan dilakukan secara detail, mencakup koordinasi lintas sektor, pengaturan teknis acara, hingga pengamanan kawasan. Bramantyo Fendy dari PT Taman Wisata Candi Borobudur menekankan pentingnya komunikasi dengan stakeholder dan penentuan vendor seperti dilansir dari laman resmi InJourney.

Festival Lampion Waisak yang menjadi ikon perayaan juga akan dilaksanakan dengan mengundang masyarakat umum. Panitia menargetkan sekitar 2.000 lampion akan diterbangkan sebagai simbol harapan dan perdamaian, menjadi magnet utama bagi masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya agenda keagamaan, tetapi juga daya tarik wisata spiritual dan budaya berskala internasional.

Kementerian Agama (Kemenag) berharap perayaan Waisak 2026 dapat menjadi pusat spiritualitas dan perdamaian bagi seluruh umat beragama. Hal tersebut sesuai dengan Edaran tentang Veskha Snanda 2570 Buddhist Era yang diterbitkan Kemenag. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag, Supriyadi, menjelaskan bahwa Waisak memiliki nilai religius dan dampak sosial signifikan. Ia menekankan pentingnya momentum ini untuk menyebarkan pesan perdamaian ke seluruh dunia, memperkuat nilai-nilai kerukunan.

Pertanyaan Seputar Peringatan Waisak di Borobudur 2026

  1. Apa itu Peringatan Waisak di Borobudur? Peringatan Waisak di Borobudur adalah momen perayaan hari raya Trisuci Waisak yang diselenggarakan di Candi Borobudur, menarik umat Buddha dan masyarakat umum.
  2. Kapan Peringatan Waisak 2026 di Borobudur dimulai? Rangkaian Peringatan Waisak 2026 di Borobudur dimulai dengan perjalanan biksu pada 9 Mei 2026 dari Bali.
  3. Apa yang dimaksud dengan Indonesia Walk For Peace (IWFP)? Indonesia Walk For Peace (IWFP) adalah perjalanan suci para biksu dari berbagai negara di Asia Tenggara yang berakhir di Borobudur.
  4. Apa makna pelepasan lampion saat Waisak? Pelepasan lampion melambangkan penerangan terhadap kegelapan batin manusia dari sifat keserakahan, kebodohan, dan kemarahan.
  5. Apakah masyarakat umum bisa menyaksikan pelepasan lampion? Ya, masyarakat umum bisa menyaksikan pelepasan lampion dari dekat atau area tribun yang disediakan.
  6. Kapan peringatan Waisak di Borobudur 2026 dilaksanakan? Peringatan Waisak 2026 digelar sesuai kalender Buddhis, dengan acara puncak pada 31 Mei 2026.
  7. Mengapa Candi Borobudur dipilih sebagai lokasi perayaan Waisak? Borobudur dipilih karena merupakan salah satu situs Buddha terbesar dan bersejarah di dunia.
Sumber : Liputan6.com