Menyicip Rebahan di STOVIA pada Hari Kebangkitan Nasional 2026
20 May 2026, 13:00 WIB
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang berpusat di Museum Kebangkitan Nasional terasa berbeda. Tidak hanya membangkitkan semangat nasionalisme lewat upacara bendera yang diikuti oleh para peserta berbusana daerah, tapi juga sejumlah program baru, termasuk rencana peluncuran Rebahan di STOVIA.
Program itu merupakan bagian dari menghidupkan museum yang berada di Jalan Jl. Dr. Abdul Rahman Saleh No.26, Senen, Jakarta Pusat. Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) Indira Estiyanti Nurjadin ingin sesuatu yang 'imersif' agar pengunjung memiliki pengalaman mendalam.
"Imersif kan tidak harus menggunakan teknologi. Justru di sini, imersifnya kita mau kembali ke zaman dulu. Jadi, benar-benar ranjangnya, ruang asramanya, itu yang kita tonjolkan," kata perempuan yang akrab disapa Esti seusai upacara di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Lewat Rebahan di STOVIA, pengunjung akan diajak menginap dari sore sampai pagi keesokan harinya. Mereka akan diajak merasakan hidup seperti siswa STOVIA, sekolah kedokteran di zaman Belanda, yang ternyata mulai bersekolah tingkat pertama di usia 15 tahun, setara usia siswa SMA saat ini.
"Jadi, kita akan bayangkan para founding fathers kita dulu, di usia yang sangat muda sudah memiliki rasa kebangsaan. Awareness terhadap adanya suatu bangsa yang merdeka.. Kita bayangkan dengan anak SMA yang sekarang, maksudnya itu menjadi refleksi," kata Esti.
Program itu masih terus digodok konsepnya sebelum dirilis resmi ke publik. Esti tak menyebutkan tanggal pasti, tetapi 'dalam waktu dekat', hal itu sudah bisa dinikmati oleh para pengunjung dengan membayar biaya tambahan.
Rencana Program Rebahan di STOVIA
Rebahan di STOVIA nanti rencananya akan dipaketkan dengan fasilitas makan dan minum sehingga mereka benar-benar tinggal di 'asrama' selama program berlangsung.
"Mungkin sebulan sekali, saya masih belum tahu detailnya, tapi ini sudah diwacanakan sejak tahun lalu. Jadi akhirnya (diumumkan), masih dalam rangka Hari Museum Internasional yang resminya 18 Mei kemarin," imbuh dia.
Sembari menunggu paket tersebut jadi, pihaknya sudah menyiapkan rekaman audio yang bercerita tentang STOVIA. Lokasinya berada di Ruang Asrama STOVIA, di sayap kanan Museum Kebangkitan Nasional. Ada lebih dari delapan ranjang diletakkan di ruangan tersebut, tetapi baru empat ranjang yang memiliki alat audio untuk mendengarkan dongeng pendek berdurasi lima menit.
Hilman Handoni, produser audio Cerita di STOVIA mengungkapkan ada empat cerita yang direkam dengan seluruhnya mengambil sudut pandang dari benda, yakni lonceng, koran, blangkon, dan ranjang. "Kurang lebih ya dari akhir tahun kita menggarapnya sampai jadi, setahunan," kata dia kepada Lifestyle Liputan6.com.
4 Cerita dari 4 Benda
Hilman menerangkan, cerita si blangkon diangkat untuk mengisahkan tentang pakaian sebagai identitas dan bagaimana hal itu membentuk identitas bangsa baru. Sementara, lewat cerita koran, pihak museum ingin menggambarkan bagaimana koran bisa membantu penyebaran gagasan.
Lalu, cerita lonceng menggambarkan upaya pendisiplinan tubuh dan pikiran mahasiswa kedokteran. Terakhir, lewat cerita ranjang, museum mengisahkan tentang kesehatan mental yang dialami mahasiswa pada era itu. Dikisahkan pula perjuangan Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten melawan pseudo sains hingga menjadi ahli jiwa pertama di Indonesia.
"Itu akan tersedia sepanjang tahun, kecuali pertunjukan monolognya. Cuma khusus hari ini aja. Tapi mudah-mudahan sih akan ada pertunjukan tiap bulan," ucap Hilman.
Pengunjung bisa mendengarkan kisah tersebut secara offline lewat headset yang tersedia di beberapa ranjang di ruang asrama. Opsi lain adalah memindai QR Code yang tersedia untuk terhubung ke Spotify.
"Pengunjung bisa mendengarkan cerita yang sama digawai mereka masing-masing melalui Spotify dan itu bisa tidak terbatas siapapun bisa menikmati, baik di dalam museum maupun di luar museum," sahutnya.
Pameran 165 Meriam
Bersamaan dengan rencana program Rebahan di STOVIA, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon meresmikan Pameran Meriam Joseph L. Spartz. Pameran itu menghadirkan 165 meriam koleksi mendiang Spartz, seorang Indonesianis kelahiran Luxembourg, yang menyerahkan koleksinya ke negara untuk dipamerkan ke publik.
"Meriam-meriam ini ada yang merupakan meriam pada zaman Portugis, VOC, Hindia Belanda dengan variasi yang sangat unik dan menggambarkan satu apa perkembangan teknik untuk pembuatan meriam dari zaman ke zaman," kata Fadli Zon.
Esti menjelaskan fokus dari pameran meriam di Museum Kebangkitan Nasional bukanlah semata sebagai senjata atau alat tempur, melainkan pada teknologi. Pada zaman dulu, nenek moyang kita ternyata sudah bisa membuat meriam dengan beragam spesifikasi dan bahkan dihias di logam materialnya.
"Jadi, ini sebagai suatu keberhasilan engineering," sahutnya.
Hibah yang diterima dari mendiang Spartz itu, sambung dia, dilengkapi dengan arsip-arsip dan sketsa. "Menurut saya, itu juga penting karena memberikan konteks kepada kita tentang keberhasilan engineering pada masa itu, untuk masyarakat umum sendiri," imbuhnya.