UKM Hengkang dari E-commerce dan Ingin Bikin Website Sendiri? Ini Tips Aman agar Terhindar dari Hacker
07 May 2026, 08:00 WIB
Tren digitalisasi di Indonesia telah mendorong banyak pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk lebih berani dalam melakukan rekspansi bisnis.
Belakangan ini bahkan banyak dari mereka dilaporkan hengkang dari platform marketplace (e-commerce) besar karena kenaikan biaya logistik atau ongkir yang dibebankan kepada seller sejak Mei 2026.
Saat memutuskan keluar dari e-commerce, UKM harus bergerak maju agar arus penjualan tak terhenti. Salah satu opsi yang bisa dipilih adalah dengan membangun website dan ekosistem transaksi mandiri.
Namun, langkah strategis ini ternyata membawa risiko keamanan baru yang sangat besar karena mereka kini berdiri di garis depan pertempuran siber tanpa perisai yang memadai.
Yudhi Kukuh selaku CTO Prosperita Group yang merupakan mitra eksklusif perusahaan keamanan siber ESET, menyoroti fenomena ini sebagai titik kerentanan baru di ekonomi digital nasional.
Selama ini, ada miskonsepsi yang sangat kuat di kalangan pelaku UKM bahwa hacker (peretas) hanya mengincar bank besar atau perusahaan multinasional. Padahal, serangan siber saat ini bekerja secara acak melalui program komputer otomatis yang menyisir seluruh sudut internet tanpa henti.
"UKM sering merasa 'ah saya cuma jualan kecil-kecilan, mana mungkin ada yang mau repot-repot meretas'. Ini adalah pola pikir yang salah besar. Pembuat malware itu tidak pernah memilih target secara spesifik di awal," ujar Yudhi, Rabu (6/5/2026) di Jakarta.
Ia menjelaskan, hacker menyebarkan serangan secara massal (broadcast). Siapa pun yang dapur pacu sistemnya lemah, dialah yang menjadi korban.
"UKM jarang terdengar kena serangan karena memang kasusnya sering tidak terlaporkan ke media, berbeda dengan perusahaan besar," ucap Yudhi, menambahkan.
Target Empuk Hacker
Risiko utama bagi UKM yang membangun website sendiri adalah ketiadaan pemeliharaan sistem yang berkelanjutan. Biasanya, pelaku UKM membayar pihak ketiga untuk membangun website, namun setelah website tersebut aktif, tidak ada proses pembaruan atau patching (penambalan celah keamanan) rutin.
"Di mata peretas, website semacam ini adalah target paling empuk. Begitu data pelanggan atau kredensial pembayaran berhasil dicuri, dampaknya bisa menghancurkan reputasi bisnis yang sudah dibangun bertahun-tahun," kata Yudhi.
Motivasi peretas menyerang UKM pun kini murni didorong oleh faktor ekonomi. Data yang dicuri, meskipun hanya berupa nama, nomor telepon, dan riwayat transaksi dari toko kecil, memiliki nilai jual yang tinggi di pasar gelap.
Data tersebut sering digunakan untuk skema penipuan lain, seperti pengiriman pesan phishing yang sangat meyakinkan atau upaya pengambilalihan akun perbankan digital pelanggan.
"Bayangkan jika sebuah UKM yang sedang tumbuh tiba-tiba terkena ransomware. Seluruh data transaksi dan stok barang disandera dan tidak bisa diakses. Karena mereka tidak punya tim IT internal, pilihannya cuma dua: membayar tebusan yang sangat mahal atau mulai dari nol lagi dengan kehilangan semua data histori. Ini yang sering membuat UKM gulung tikar secara mendadak tanpa publik tahu penyebabnya," ungkap Yudhi.
Tips Keamanan Untuk UKM
Sebagai langkah mitigasi dengan biaya terjangkau, Yudhi menyarankan pelaku UKM untuk fokus pada proteksi berlapis. Penggunaan anti-malware pada perangkat ponsel yang digunakan untuk berjualan dan berkomunikasi adalah hal wajib, mengingat maraknya serangan lewat file APK palsu.
Selain itu, melakukan cadangan data (backup) secara berkala adalah cara termurah dan paling efektif untuk memastikan bisnis tetap berjalan jika terjadi insiden siber yang tidak diinginkan.
"Edukasi adalah kunci utama. Pelaku UKM harus paham bahwa keamanan digital bukan lagi beban biaya tambahan, melainkan investasi jangka panjang untuk kelangsungan bisnis. Jangan sampai baru sadar pentingnya keamanan setelah sistemnya lumpuh. Mulailah dari hal sederhana seperti tidak sembarangan klik link dan rutin memperbarui sistem operasi website," pesan Yudhi kepada para pelaku UKM di Indonesia.