Friendster Bangkit Lagi Lewat Kesepakatan Rp 521 Jutaan, Apa yang Bikin Versi Barunya Berbeda?

30 April 2026, 12:27 WIB
Friendster Bangkit Lagi Lewat Kesepakatan Rp 521 Jutaan, Apa yang Bikin Versi Barunya Berbeda?

Nama Friendster mungkin sudah lama terkubur di sudut nostalgia internet. Tapi diam-diam, seseorang membeli, mengklaim, dan membangkitkannya kembali ke dunia modern.

Jadi salah satu media sosial (medsos) populer di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia, Friendster kini kembali muncul lagi dengan konsep baru dan terasa berbeda dari medsos lainnya.

Layanan ini pertama kali berdiri pada 2002, dan sempat menjadi platform di mana penggunanya membangun profil, menulis testimoni, mencari teman lama, hingga berinteraksi sebelum era Facebook, Instagram, dan TikTok hadir.

Namun, perjalanan platform ini tidak bertahan lama. Pada 2011, layanan ini berubah arah dari media sosial menjadi situs social gaming hingga akhirnya Friendster resmi ditutup pada 2015.

Setelah bertahun-tahun domain Friendster.com tidak aktif, tiba-tiba pada Oktober 2023 situs tersebut bisa diakses kembali. Hanya saja, kala itu web-nya hanya menampilkan iklan pop-up untuk mendapatkan uang.

Kini, Friendster mendapatkan kesempatan kedua lewat seorang programmer komputer dan enterpreneur bernama Mike Carson.

Mengutip Medium, Kamis (30/4/2026), dia tertarik untuk membeli domain Friendster.com, dan langsung menelusuri siapa pemilik domain tersebut.

Selama penelusuran, Mike menemukan fakta menarik. Ternyata, pemilik domain tersebut pernah berkomunikasi dengan dirinya lewat email. Saat dihubungi, pemilik domain mengaku membeli Friendseter.com seharga USD 8.000.

"Dia memberi tahu saya, dia membelinya seharga USD 8.000 dan sekarang menghasilkan pendapatan iklan dari lalu lintas yang ada. Dia membelinya di gname.com, sebuah situs yang menyelenggarakan lelang nama domain kedaluwarsa di mana Anda dapat membeli domain pra-rilis dari berbagai registrar Tiongkok/Asia," kata Mike.

Tak ingin berlama-lama, Mike pun langsung negosiasi dan berhasil membeli domain tersebut dengan imbalan Bitcoin senilai USD 20.000 serta sebuah domain lain yang memiliki pendapatan iklan tahunan sekitar USD 9.000.

Jika dihitung kasar, nilai kesepakatan itu setara sekitar USD 30.000 atau kurang lebih Rp 521 jutaan jika mengacu kurs Rp 17.385 per dolar AS hari ini.

Mike juga mendapatkan informasi, hak merek dagang Friendster akan segera kedaluwarsa. Setelah berkonsultasi dengan pengacara dan melewati proses panjang, ia akhirnya memperoleh hak merek dagang Friendster pada 13 Mei 2025.

Bangkit Sebagai Media Sosial

Logo terakhir Friendster (sumber : CNET)

Setelah memiliki domain dan hak merek Friendster, Carson memutuskan untuk menghidupkan kembali layanan tersebut sebagai media sosial, seperti Facebook.

Namun, ia tidak ingin sekadar meniru platfom modern yang sudah ada. Mike ingin Friendster sebagai pengalaman menyenangkan dan positif, meski dulu situsnya kerap lambat diakses.

"Saya merasa media sosial saat ini telah mempromosikan aspek negatif di era modern, tetapi saya mengingat Friendster sebagai pengalaman yang benar-benar positif dan menyenangkan, meski sangat membuat frustrasi ketika situsnya tidak bisa dimuat," kata Carson.

"Saya ingin membuat sesuatu yang positif, sesuatu yang bisa dinikmati orang dan mereka anggap berguna," katanya.

Awalnya, Mike membuat jejaring sosial dasar di Friendster.com dan mengundang sebagian orang dari daftar tunggu. Ia menawarkan konsep tanpa penjualan data, tanpa algoritma, dan tanpa iklan.

Sayangnya, cara tersebut belum cukup untuk menarik minat pengguna. Ia kemudian mengembangkan ide yang membuat Friendster baru ini beda dari yang lama.

Alhasil, dia membuat aplikasi Friendster di App Store. Lewat saran dari beberapa pihak, dia menambahkan fitur di mana pengguna tidak bisa sembarang menambah teman dari jarak jauh.

Untuk menjadi teman, dua pengguna harus berada sangat dekat di dunia nyata dan mengetuk atau mendekatkan ponsel mereka pada waktu yang sama. Konsep ini membuat Friendster bergerak ke arah berbeda dari medsos saat ini.

Menurut Carson, cara ini juga dapat membantu pengguna memastikan orang yang mereka temui adalah orang sungguhan dan memang ingin terhubung.

Belum Fokus Cari Uang dari Friendster

Saat ini, Carson belum fokus mencari uang dari Friendster. Ia berharap layanan ini bisa menutup biaya operasional lebih dulu. Ke depan, Friendster bisa saja memiliki paket berbayar dengan fitur premium, tetapi belum ada keputusan final.

Friendster baru juga membawa dua konsep utama. Pertama, friend of a friend, yang memungkinkan pengguna melihat teman dari teman mereka dan mengirim permintaan pesan.

Kedua, weakening of connections. Jika dua pengguna yang berteman tidak mengetuk ponsel mereka dalam jarak dekat selama satu tahun, koneksi mereka di aplikasi akan melemah.

"Ini bukan hukuman. Ini adalah sinyal lembut bahwa persahabatan sejati harus dirawat secara langsung, bukan online," kata Carson.

Dengan pendekatan ini, Friendster mencoba kembali dengan identitas baru. Ia membawa nostalgia, tetapi juga menawarkan cara berbeda untuk membangun hubungan digital di tengah media sosial yang semakin ramai dan berbasis algoritma.

Sumber : Liputan6.com