Gianluca Prestianni Terancam Absen di Piala Dunia 2026 Akibat Perilaku Homofobik

27 April 2026, 23:00 WIB
Gianluca Prestianni Terancam Absen di Piala Dunia 2026 Akibat Perilaku Homofobik

Pemain muda Argentina, Gianluca Prestianni, yang kini memperkuat Benfica, tengah menghadapi situasi pelik yang dapat mengancam partisipasinya di ajang Piala Dunia 2026. Ia dijatuhi sanksi oleh UEFA terkait insiden perilaku diskriminatif dalam pertandingan Liga Champions. Ancaman ini semakin nyata setelah UEFA secara resmi meminta FIFA untuk memperluas cakupan sanksi tersebut agar berlaku secara global.

Insiden yang melibatkan Prestianni terjadi pada 17 Februari 2026, dalam laga play-off babak gugur Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid di Estdio da Luz, Lisbon. Dalam pertandingan tersebut, Prestianni dituduh melakukan perilaku diskriminatif terhadap bintang Real Madrid, Vincius Jnior, yang sempat menyebabkan pertandingan dihentikan selama 10 menit.

Awalnya, Vincius Jnior menuduh Prestianni melakukan pelecehan rasial. Namun, Prestianni kemudian mengakui bahwa ia menggunakan kata-kata homofobik, bukan rasis, terhadap Vincius Jnior. Pengakuan ini menjadi dasar bagi UEFA dalam menjatuhkan hukuman, yang kini berpotensi berdampak jauh lebih besar dari sekadar larangan bermain di level klub.

Insiden Kontroversial dan Pengakuan Prestianni

Insiden Kontroversial dan Pengakuan Prestianni

Insiden bermula saat pertandingan Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid memanas. Vincius Jnior menuduh Gianluca Prestianni melakukan pelecehan, yang kemudian terungkap sebagai perilaku homofobik. Kejadian ini tidak hanya menghentikan jalannya pertandingan, tetapi juga memicu penyelidikan serius dari UEFA.

Prestianni, yang berusia 20 tahun, awalnya membantah tuduhan rasisme, namun kemudian mengakui bahwa ia melontarkan komentar homofobik kepada Vincius Jnior. Pengakuan ini menjadi poin penting dalam penanganan kasus oleh otoritas sepak bola Eropa.

Meskipun Pasal 14 peraturan disipliner UEFA biasanya menjatuhkan larangan minimal 10 pertandingan untuk perilaku diskriminatif, termasuk homofobia, sanksi yang lebih ringan ini mungkin karena Prestianni mengakui kesalahannya. Kasus ini menyoroti pentingnya penegakan disiplin terhadap segala bentuk pelecehan dalam sepak bola.

Sanksi UEFA dan Permintaan Global FIFA

UEFA menjatuhkan larangan bermain sebanyak enam pertandingan kepada Gianluca Prestianni. Sanksi ini berlaku untuk kompetisi klub UEFA dan/atau kompetisi tim nasional. Tiga dari enam pertandingan tersebut ditangguhkan selama masa percobaan dua tahun, menunjukkan adanya unsur peringatan bagi sang pemain.

Prestianni telah menjalani satu pertandingan larangan sementara, sehingga ia hanya perlu menjalani dua pertandingan lagi dalam kompetisi UEFA. Namun, keputusan UEFA untuk secara resmi mengajukan permintaan kepada FIFA agar memperluas cakupan sanksi Prestianni menjadi berlaku secara global, mengubah dinamika kasus ini secara signifikan.

Jika FIFA menyetujui permintaan tersebut, maka larangan bermain Prestianni tidak hanya berlaku di level klub Eropa, tetapi juga bisa berdampak pada penampilannya bersama tim nasional Argentina. Hal ini akan menjadi preseden penting dalam penanganan kasus diskriminasi di sepak bola internasional.

Dampak Potensial bagi Karier Internasional

Ancaman terbesar dari keputusan ini adalah potensi absennya Prestianni pada laga-laga awal Piala Dunia 2026, apabila ia dipanggil ke skuad Argentina. Jika sanksi global disetujui, Prestianni terancam absen dalam dua pertandingan pertama Argentina di turnamen akbar tersebut.

Ini akan menjadi pukulan besar bagi karier internasionalnya, terutama mengingat ia adalah pemain muda yang sedang dalam pantauan tim nasional Argentina. Pelatih tim nasional Argentina, Lionel Scaloni, kemungkinan tidak akan mengambil risiko memilih pemain yang membawa sanksi, terutama karena Prestianni masih merupakan opsi pinggiran dengan hanya satu penampilan internasional.

Peluangnya untuk tampil di panggung terbesar sepak bola dunia bisa terganggu secara signifikan, meskipun musim ini ia telah mencatatkan 3 gol dan 5 assist dari 37 penampilan di semua kompetisi. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya menjaga sikap di dalam lapangan demi nilai sportivitas.

Reaksi dan Upaya Banding

Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menyatakan bahwa perilaku pemain yang menutupi mulut saat berbicara dengan konsekuensi rasis harus dihukum kartu merah. Badan pembuat aturan sepak bola, International Football Association Board (IFAB), juga sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk mencegah pemain menyembunyikan apa yang mereka katakan kepada lawan.

Pihak Prestianni sendiri sedang mempertimbangkan untuk mengajukan banding ke UEFA dan bahkan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) untuk membatalkan sanksi tersebut. Ini menunjukkan bahwa perjuangan hukum untuk Prestianni masih belum berakhir.

Keputusan akhir dari FIFA mengenai perluasan sanksi akan sangat menentukan masa depan Prestianni di kancah internasional. Kasus ini menegaskan komitmen otoritas sepak bola dalam memerangi segala bentuk diskriminasi, baik yang bersifat rasis maupun homofobia.

Sumber : Liputan6.com