2 Turis Ditangkap di Masjid Hagia Sophia karena Mengibarkan Bendera Bizantium

17 April 2026, 19:00 WIB
2 Turis Ditangkap di Masjid Hagia Sophia karena Mengibarkan Bendera Bizantium

Kepolisian Istanbul mengumumkan penangkapan dua turis asal Yunani yang kedapatan mengibarkan apa yang disebut sebagai "bendera Bizantium" di dalam Hagia Sophia. Itu adalah bangunan bersejarah yang hingga kini sarat makna politik, agama, dan identitas.

Melansir Daily Sabah, Jumat (17/4/2026), kedua turis, yang diidentifikasi sebagai Mazis Michael (35) dan Kostantina Mazi (42), datang ke Hagia Sophia pada 9 April 2026 bersama rombongan wisatawan lain.

Seperti pengunjung pada umumnya, mereka memasuki kompleks tersebut yang kini berfungsi sebagai masjid, setelah sebelumnya pernah menjadi katedral agung pada masa Kekaisaran Bizantium. Namun, di dalam bangunan itulah situasi berubah.

Di tengah suasana kunjungan, keduanya membentangkan sebuah bendera yang diasosiasikan dengan simbol-simbol Bizantium. Tidak berhenti di situ, mereka juga sempat berfoto dengan bendera tersebut---sebuah tindakan yang kemudian menarik perhatian petugas keamanan setempat.

Begitu menyadari apa yang terjadi, petugas segera menghentikan aktivitas itu dan melaporkannya pada pihak kepolisian. Penanganan kasus ini berlangsung cepat. Polisi kemudian melacak keberadaan kedua turis tersebut dan menahan mereka di hotel tempat mereka menginap, yang berada di kawasan Fatih, Istanbul.

Tidak lama setelah itu, pengadilan setempat mengeluarkan perintah penahanan dengan tuduhan "menghasut kebencian publik," sebuah pasal yang kerap digunakan dalam kasus-kasus yang dianggap berpotensi memicu ketegangan sosial atau antaragama.

Menurut laporan media lokal, tulisan yang tertera pada bendera tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Turki sebagai "Berpegang Teguh pada Agama Ortodoks atau Mati." Kalimat ini dinilai sensitif, terutama karena disampaikan di dalam ruang ibadah yang saat ini berfungsi sebagai masjid aktif.

Kompleksnya Posisi Hagia Sophia

Kompleksnya Posisi Hagia Sophia

Insiden ini kembali menyoroti betapa kompleksnya posisi Hagia Sophia dalam sejarah dan politik kawasan. Bangunan megah tersebut pertama kali didirikan pada tahun 537 atas perintah Justinian I, dan selama berabad-abad menjadi pusat Kekristenan Ortodoks Timur.

Setelah penaklukan Konstantinopel oleh Kesultanan Utsmaniyah pada 1453, bangunan ini diubah menjadi masjid, sebelum kemudian dijadikan museum pada abad ke-20, dan akhirnya kembali difungsikan sebagai masjid pada 2020.

Perubahan status tersebut bukan sekadar keputusan administratif, melainkan juga memicu respons emosional yang kuat, khususnya di Yunani. Bagi banyak warga Yunani, Hagia Sophia bukan hanya bangunan bersejarah, namun juga simbol kejayaan dan identitas religius yang pernah hilang.

Karena itu, tindakan-tindakan simbolik seperti pengibaran bendera atau pesan religius di dalamnya sering kali dipandang sebagai bentuk ekspresi---atau bahkan pernyataan politik.

Tindakan Provokasi

Tindakan Provokasi

Di sisi lain, otoritas Turki cenderung melihat aksi semacam itu sebagai provokasi yang tidak bisa ditoleransi, terlebih ketika dilakukan di tempat ibadah yang aktif digunakan. Dalam konteks ini, respons cepat aparat mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap segala bentuk simbol yang berpotensi memicu ketegangan.

Lebih luas lagi, peristiwa ini mencerminkan hubungan yang memang sudah lama penuh dinamika antara Turki dan Yunani. Kedua negara memiliki sejarah panjang yang diwarnai persaingan, konflik, dan perbedaan kepentingan---mulai dari isu wilayah di Laut Aegea hingga persoalan identitas budaya dan agama.

Dalam situasi seperti itu, tindakan yang tampak kecil atau simbolis sekalipun bisa dengan cepat membesar dan dipahami dalam kerangka politik yang lebih luas.

Melestarikan Gambar Kekristenan

Melestarikan Gambar Kekristenan

Kendati sudah berubah jadi masjid, otoritas Turki berkomitmen untuk tetap melestarikan gambar kekristenan di Hagia Sophia. Mosaik kekristenan yang tergambar di langit-langit, yang meliputi gambar Yesus, Bunda Maria, dan roh kudus Kristen, akan ditutup tirai ketika salat digelar.

Di luar waktu salat, ikon tersebut akan dibuka kembali dan terbuka untuk semua pengunjung. Direktorat Keagamaan Turki juga mengatakan, kehadiran mosaik dan lukisan tersebut tidak akan menjadi penghalang saat salat, kanal Islami Liputan6.com melansir Anadolu Agency.

Proses pengubahan fungsi dari museum menjadi masjid terjadi setelah keputusan pengadilan Turki berlangsung dengan aktivitas restorasi dan pemasangan karpet. Selama menjadi museum, Hagia Sophia dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Sumber : Liputan6.com