17 April 1895: Perjanjian Shimonoseki Akhiri Perang Sino-Jepang

17 April 2026, 06:00 WIB
17 April 1895: Perjanjian Shimonoseki Akhiri Perang Sino-Jepang

17 April 1895 menjadi penanda berakhirnya Perang Sino-Jepang pertama melalui penandatanganan Perjanjian Shimonoseki. Kesepakatan tersebut tidak hanya mengakhiri konflik antara Tiongkok dan Jepang, tetapi juga mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Timur secara signifikan.

Perang ini berakar pada persaingan pengaruh di Semenanjung Korea, wilayah strategis yang selama berabad-abad berada di bawah orbit Tiongkok. Namun, situasi mulai berubah ketika Jepang bangkit sebagai kekuatan modern setelah Restorasi Meiji, dikutip dari laman Global Politics, Jumat (17/4/2026).

Transformasi besar-besaran di bidang militer, industri, dan pemerintahan membuat Jepang tampil sebagai negara dengan kekuatan baru di kawasan.

Sebaliknya, Tiongkok di bawah Dinasti Qing justru mengalami kemunduran. Upaya reformasi yang tidak berjalan efektif, ditambah tekanan dari kekuatan Barat, melemahkan fondasi negara tersebut. Kekalahan dalam Perang Opium memaksa Tiongkok menandatangani berbagai perjanjian yang merugikan, seperti Perjanjian Nanjing, Bogue, dan Tianjin. Perjanjian-perjanjian ini menggerus kedaulatan dan memperburuk kondisi ekonomi, sementara di dalam negeri korupsi dan pemberontakan semakin meluas.

Dalam konteks tersebut, Korea menjadi titik temu kepentingan yang saling bertabrakan. Jepang berupaya memperluas pengaruhnya dengan mendorong modernisasi Korea dan menjadikannya sebagai negara satelit. Di sisi lain, Tiongkok berusaha mempertahankan dominasi tradisionalnya atas wilayah tersebut.

Ketegangan meningkat setelah dua peristiwa penting di Korea, yakni Kudeta Gapsin dan Pemberontakan Donghak. Kudeta yang dipimpin kelompok reformis pro-Jepang gagal dan memperuncing rivalitas kedua negara. Situasi semakin memanas ketika Pemberontakan Donghak meletus, mendorong pemerintah Korea meminta bantuan Tiongkok.

Tiongkok mengirim pasukan untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun, Jepang merespons dengan mengirim militernya sendiri ke Korea. Kehadiran dua kekuatan besar ini di wilayah yang sama mempercepat eskalasi konflik menjadi perang terbuka pada 1894.

Perang berakhir dengan kemenangan Jepang, yang menandai munculnya negara tersebut sebagai kekuatan utama di Asia Timur, sekaligus mempercepat kemunduran pengaruh Tiongkok di kawasan. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga membentuk dinamika geopolitik Asia hingga abad berikutnya.

Sumber : Liputan6.com