PLN Lelang 97 Proyek RUPTL, Ini Rinciannya
13 April 2026, 19:40 WIB
PT PLN (Persero) telah melaksanakan lelang untuk 97 proyek ketenagalistrikan hingga Maret 2026, sejak Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 diterbitkan pada 26 Mei 2025.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, selama Mei-Desember 2025, pihaknya menginisiasi tim task force percepatan RUPTL 2025-2034 dan membentuk war room eksekusi RUPTL.
"Dan sampai saat ini (Maret 2026), kami melakukan proses pengadaan lelang di 97 proyek yang telah dimulai," imbuh dia dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).
Selain itu, PLN sepanjang 2025 juga telah menyesuaikan berbagai proyek. Mulai dari pembangkit, transmisi, hingga gardu induk sesuai dengan target dari masing-masing infrastruktur.
Pasca RUPTL 2025-2034 diterbitkan, perseroan juga telah menyusun kajian kelayakan proyek-proyek ketenagalistrikan, dalam rangka menjalankan arahan pemerintah untuk menyediakan energi listrik.
"Kami bergerak menyusun dokumen pengadaan proyek prioritas. Dari 574 proyek, 353 proyek proses pengadaan, 156 proyek proses konstruksi, dan 64 proyek sudah commissioning. Ini adalah eksekusi proyek prioritas sampai dengan bulan Maret 2026," kata Darmawan.
574 Proyek Prioritas
Adapun 574 proyek prioritas itu terdiri dari 139 proyek pembangkit listrik dengan total kapasitas 10,33 Giga Watt (GW), 187 proyek transmisi sepanjang 14.533 kilometer sirkuit (kms), dan 248 proyek gardu induk 31.470 Megavolt Ampere (MVA).
Menurut catatan PLN, seluruh 574 proyek strategis ketenagalistrikan tersebut ditaksir menelan investasi hingga Rp 291,6 triliun.
Lebih lanjut, Darmawan mengutarakan, dari penambahan 69,5 GW kapasitas pembangkit dalam RUPTL PT PLN 2025-2034, sekitar 76 persen berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).
Mismatch Supply and Demand EBT
Dalam menyukseskan RUPTL 2025-2034, Darmawan tidak menafikan bahwa pihaknya menemui tantangan mismatch supply dan demand EBT. Lantaran lokasi sumber energi baru dan terbarukan kebanyakan berada jauh dari pusat demand kelistrikan nasional.
Alhasil, jaringan transmisi sepanjang 48.000 kms dinilai menjadi sangat strategis untuk menciptakan ketahanan dan keamanan energi sesuai dengan arahan pemerintah.
"Jadi dalam RUPTL 2025-2034 ini, kami akan mampu mengevakuasi daya dari lokasi energi baru terbarukan dari daerah yang lokasinya terpencil," pungkas Darmawan.