Said Abdullah: PDIP Tak Akan Tinggalkan NU, Tegaskan Politik Harus Jujur di Era Kepalsuan

12 April 2026, 15:11 WIB
Said Abdullah: PDIP Tak Akan Tinggalkan NU, Tegaskan Politik Harus Jujur di Era Kepalsuan

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan komitmen partainya untuk terus bersama Nahdlatul Ulama (NU) dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, khususnya di Jawa Timur.

Ia menyebut, hubungan antara PDIP dan NU bukan sekadar kedekatan politik, melainkan memiliki akar sosial dan ideologis yang kuat.

"PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU," kata Said dalam acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu (12/4/2026).

Said menjelaskan, masyarakat Jawa Timur sejak lama dikenal dengan basis "Ijo-Abang", yakni santri dan abangan. Santri merepresentasikan kekuatan NU, sementara abangan identik dengan kekuatan nasionalis seperti PDIP. Namun, menurut dia, pembelahan sosial yang dulu kuat kini semakin mencair.

"Di berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku NU ternyata banyak menyalurkan suaranya ke PDI Perjuangan," ujarnya.

Ia menilai, kondisi ini menunjukkan adanya irisan kepentingan dan perjuangan antara kelompok santri dan nasionalis.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah dalam acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu (12/4/2026).

Said menyoroti kesamaan nasib antara kelompok santri dan abangan yang masih menghadapi persoalan sosial serupa.

"Santri dan abangan ini hanya beda sehelai bulu. Tapi nasibnya sama---sama-sama miskin, sama-sama tertinggal dari sisi pendidikan, dan sama-sama kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak," ucapnya.

Menurut Said, di sinilah peran NU dan PDIP menjadi penting. NU menjalankan fungsi sosial melalui pemberdayaan umat, sementara PDIP memperjuangkan kebijakan publik yang berpihak pada rakyat.

Politik Berbasis Islam Moderat

Politik Berbasis Islam Moderat

Said juga menegaskan, PDIP mengadopsi nilai-nilai Islam Wasathiyah yang menjadi ciri khas NU, yakni Islam yang moderat, adil, dan toleran.

"Islam Wasathiyah ini menjadi pedoman langkah langkah politik PDI Perjuangan, kita menolak Islam dihadirkan secara menakutkan, terutama di hadapan terhadap kelompok minoritas, padahal mereka saudara sebangsa sendiri. Keislaman kita harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian," kata Said.

Said pun menyambut positif keterlibatan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama yang menjadikan PDI Perjuangan sebagai rumah politik. Ia mencontohkan sejumlah figur, seperti Gus Wahab di Jawa Timur hingga Abdullah Azwar Anas di tingkat pusat. Said berharap lebih banyak kiai, gus, bu nyai, dan ning ikut ber-ijtihad politik bersama PDIP, sekaligus membawa nilai dakwah dalam kehidupan berbangsa.

"Dengan kebersamaan ini, kami berharap ada perbaikan, termasuk dalam kehidupan beribadah. Berdakwah dan membersamai PDI Perjuangan, insya Allah ganjarannya berlipat," ujar Said.

Ia juga mengingatkan bahwa tradisi halal bihalal yang digelar saat ini memiliki akar sejarah kuat, digagas oleh pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, bersama Soekarno sebagai upaya merajut persatuan bangsa.

Ajakan Jaga Kejujuran dan Silaturahmi

Ajakan Jaga Kejujuran dan Silaturahmi

Dalam kesempatan itu, Said turut menyinggung fenomena maraknya kepalsuan di era digital, terutama di media sosial.

"Kita memasuki era post truth. Keadaan kita mengalami kesusahaan untuk membedakan benar salah, kejujuran dan kebohongan, otentisitas dan kepalsuan," ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.

Sebagai penutup, Said mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk menjaga nilai kejujuran dan memperkuat silaturahmi, sebagaimana semangat Halal Bihalal.

"Sering-sering bertabayun, menjaga silaturahmi, dan membuka hati. Dalam berpolitik juga harus konsisten, adil, dan tidak menghasut," tegasnya.

Ia memastikan, PDI Perjuangan akan terus berpegang pada nilai-nilai tersebut dalam menjalankan perjuangan politik ke depan.

(*)

Sumber : Liputan6.com