IHSG Melemah Nyaris 17% sejak Konflik Timur Tengah
02 April 2026, 18:40 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan sejak memanasnya konflik geopolitik di kawasan Teluk yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS). Hal ini ditunjukkan dari laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mengungkapkan hingga 1 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi 7.184,44. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 16,91 persen sejak awal tahun (year to date).
"Kita melihat bahwa pasar modal kita mengalami pergerakan yang cukup dinamis dan dengan tingkat volatilitas yang juga tercatat cukup tinggi. Ini tentu terkait juga dan seiring dengan tekanan geopolitik dan kondisi domestik dan global yang memang masih terus mengalami eskalasi," kata Hasan Fawzi, dalam Konferensi Pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Menurut Hasan, pergerakan pasar saat ini menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Tingginya volatilitas tidak lepas dari tekanan eksternal, terutama eskalasi konflik geopolitik serta dinamika kondisi ekonomi global dan domestik yang belum stabil.
Ia juga menekankan, gejolak ini bukan hanya dialami oleh Indonesia. Sejumlah bursa saham di kawasan regional maupun global turut menghadapi tekanan serupa akibat faktor eksternal yang mendominasi pergerakan pasar.
"Kami sampaikan bahwa kondisi ini tidak hanya dialami oleh pasar modal kita atau bursa kita, tapi juga dialami oleh hampir seluruh bursa-bursa di regional dan global. Tentu ini juga menunjukkan dan mencerminkan dinamika eksternal dibanding apa yang merupakan respon atas kondisi fundamental di domestik semata," ujarnya.
Dampak dari pelemahan IHSG juga terlihat pada nilai kapitalisasi pasar. Data OJK menunjukkan kapitalisasi pasar saham Indonesia menyusut sekitar 20,18 persen, dari sebelumnya Rp 15.849 triliun menjadi Rp 12.650 triliun.
Transaksi Harian Pasar Saham Maret 2026 Capai Rp 20,66 Triliun
Kendati demikian, OJK mencatat rata-rata nilai transaksi harian saham selama Maret 2026 mencapai Rp 20,66 triliun, mencerminkan minat investor yang masih tinggi. Kondisi ini terjadi di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup dalam.
"Aktivitas transaksi saham misalnya tercatat masih terus menunjukkan angka yang solid dan tinggi dengan rata-rata nilai transaksi harian itu sudah ada di angka Rp 20,66 triliun selama bulan Maret 2026," ujarnya.
Adapun OJK mencatat per 1 April 2026, IHSG berada di level 7.184,44 atau turun 16,91% secara year to date (YtD), seiring dengan tekanan eksternal yang berasal dari dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global.
IHSG Berpeluang Rebound Terbatas di Kuartal II 2026, Cermati Sektor Ini
Sebelumnya, pengamat pasar modal Reydi Octa memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kuartal II 2026 masih berpeluang mengalami rebound setelah tekanan cukup dalam pada awal tahun. Namun, penguatan tersebut dinilai tidak akan terlalu besar karena masih dibayangi berbagai sentimen global dan domestik.
"Koreksi IHSG hingga sekitar 18% di kuartal I mencerminkan kombinasi tekanan global dan capital outflow, sehingga di kuartal II saya melihat ruang rebound tetap terbuka, meski cenderung terbatas. Pasar akan bergerak lebih selektif, dengan kecenderungan rebound selama tidak ada kejutan baru dari global," ujar Reydi kepada Liputan6.com, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, arah pergerakan pasar pada periode ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk tensi geopolitik, arah suku bunga, hingga fluktuasi harga komoditas. Selain itu, faktor domestik seperti stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah, serta arus dana asing juga akan menjadi penentu.
"Sentimen utama masih berasal dari global yaitu tensi geopolitik, arah suku bunga, serta harga komoditas ditambah faktor domestik seperti stabilitas rupiah, kebijakan pemerintah, dan arah arus dana asing," ujarnya.
Dari sisi sektoral, ia menilai saham energi dan komoditas masih cenderung defensif, sementara perbankan besar mulai menarik untuk dikoleksi secara bertahap seiring penurunan valuasi. Adapun sektor konsumsi dinilai akan sangat bergantung pada daya beli masyarakat dan kebijakan pemerintah, sedangkan sektor teknologi dan digital berpotensi diuntungkan dari tren efisiensi dan digitalisasi.