Cerita Malam yang Memutih di SPBE Cimuning Bekasi, Berujung Bencana Merah Membara

02 April 2026, 17:33 WIB
Cerita Malam yang Memutih di SPBE Cimuning Bekasi, Berujung Bencana Merah Membara

Malam di sekitar SPBE Cimuning, Kota Bekasi, awalnya tampak seperti malam-malam biasa. Lampu rumah menyala, aktivitas warga berjalan pelan menuju istirahat. Tak ada tanda bahwa beberapa saat kemudian, kepanikan akan pecah dan memaksa orang-orang berlari meninggalkan segalanya.

Semua bermula dari sesuatu yang nyaris dianggap sepele: bau gas.

Aroma itu datang perlahan, merayap di udara, lalu semakin pekat. Dalam waktu singkat, suasana berubah. Jalanan yang biasa dilalui warga disebut-sebut "memutih", tertutup uap gas yang menyebar tanpa arah.

"Asapnya sudah banyak, gasnya sudah bau. Saya langsung lari duluan," ujar seorang warga saat berbincang di lokasi, Kamis (2/4/2026).

Tak ada ruang dan waktu untuk berpikir panjang. Naluri mengambil alih. Dalam kondisi seperti itu, pilihan menjadi sangat sederhana: siapa yang harus diselamatkan lebih dulu.

"Anak, istri dulu. Rumah dan barang-barang belakangan," ungkapnya.

Kepanikan menjalar cepat, hampir serentak. Suara sirine mulai terdengar bersahutan, memecah malam. Orang-orang keluar rumah, sebagian berlari tanpa tujuan jelas, sebagian lagi hanya mengikuti arus, menjauh sejauh mungkin dari sumber bau yang semakin mengkhawatirkan.

"Kita lari ke kebun, jauh ke dalam. Semalaman di luar," kata seorang ibu yang rumahnya berada tak jauh dari titik kejadian.

Di tengah gelap, kebun menjadi tempat perlindungan darurat. Tanah, pepohonan, dan dingin malam menjadi saksi bagaimana warga bertahan dengan rasa takut yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Lalu, ledakan itu datang.

Suara keras memecah udara, disusul kobaran api yang bergerak cepat. Api seolah mengikuti jejak gas yang sudah lebih dulu menyebar, melompat dari satu titik ke titik lain tanpa bisa dikendalikan.

"Kayak bola api, nempel. Pokoknya ledakannya kaya petasan deh, gede banget suaranya," ujarnya.

Bau Gas Berujung Derita

Bau Gas Berujung Derita

Api tak lagi hanya berada di satu lokasi. Ia menjalar, menyambar rumah-rumah warga, bahkan yang tidak berada tepat di dekat sumber kebakaran. Dalam hitungan detik, permukiman berubah menjadi area penuh ancaman.

Di tengah kekacauan itu, tak ada yang sempat memikirkan harta benda. Yang tersisa hanya rasa takut dan keinginan untuk selamat.

"Saya saja lari sambil ketakutan, sampai nggak mikirin apa-apa lagi," ungkapnya.

Di tengah kepanikan, ada pula cerita lain yang menambah luka. Sejumlah warga menyayangkan masih adanya orang yang merekam atau menyiarkan langsung kejadian saat situasi belum terkendali.

"Orang lagi panik, malah ada yang live. Itu yang bikin tambah emosi," ujarnya.

Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya 12 orang mengalami luka bakar serius dan harus dirawat di berbagai rumah sakit. Sementara itu, banyak warga lain memilih mengungsi dan baru kembali ke rumah keesokan harinya.

Bagi sebagian warga, bau gas sebenarnya bukan hal baru. Aktivitas pengisian gas di sekitar lokasi kerap menimbulkan aroma yang sudah dianggap biasa.

"Kalau ngisi mah bau. Tapi nggak pernah sampai kayak semalam baunya," kata seorang warga.

Namun, malam itu berbeda. Kebocoran yang terjadi membuat gas menyebar luas, menciptakan kondisi yang jauh lebih berbahaya dari biasanya.

Warga juga menyoroti persoalan lama yang belum terselesaikan: kedekatan fasilitas gas dengan permukiman.

"Harusnya kalau kayak gini di tengah sawah, jangan di sini," ujar seorang warga.

Rasa Aman Ikut Menguap

Rasa Aman Ikut Menguap

Menurut penuturan mereka, kawasan tersebut awalnya adalah permukiman, meski belum terlalu padat. Seiring waktu, jumlah penduduk meningkat, sementara fasilitas industri tetap berada di lokasi yang sama.

Penolakan dari warga, menurut mereka, pernah ada. Namun tidak membuahkan perubahan.

"Yang nolak banyak, cuma nggak didengar, ya kita mah warga kecil mau gimana lagi," ujarnya.

Kini, setelah kebakaran terjadi, persoalan tidak hanya berhenti pada kerusakan rumah. Warga juga menghadapi kesulitan pascakejadian dari kehilangan barang, mengungsi, hingga proses pendataan bantuan yang belum sepenuhnya jelas.

Sebagian warga mengaku masih kebingungan terkait bantuan yang diterima. Ada yang menyebut pendataan dilakukan untuk sembako, sementara informasi terkait ganti rugi belum pasti.

Di tengah kondisi itu, satu hal yang paling terasa adalah hilangnya rasa aman.

Peristiwa di Cimuning bukan sekadar kebakaran. Ia menjadi pengingat keras bahwa risiko yang selama ini dianggap biasa bau gas, aktivitas industri di dekat rumah dapat berubah menjadi bencana dalam sekejap.

Dan bagi warga yang malam itu berlari tanpa arah, pengalaman tersebut bukan sekadar cerita melainkan trauma yang masih membekas hingga hari ini.

Infografis Pemicu & Antisipasi Kebakaran di Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)
Sumber : Liputan6.com