Emas Alami Deflasi di Maret 2026, Pertama dalam 30 Bulan
01 April 2026, 16:40 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas emas perhiasan mengalami deflasi pada Maret 2026. Kondisi ini menjadi yang pertama setelah emas konsisten mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan penurunan harga emas tersebut menjadi fenomena yang cukup signifikan dalam perkembangan inflasi terkini.
"Komoditas emas perhiasan mengalami deflasi. Selama 30 bulan berturut-turut mengalami inflasi, baru saat ini komoditas emas mengalami deflasi," kata Ateng di kantor BPS, Rabu (1/4/2026).
Secara bulanan (month-to-month/mtm), tingkat deflasi emas tercatat sebesar 1,17 persen dengan kontribusi terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.
Dengan capaian tersebut, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil deflasi terdalam pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan kontribusi sebesar 0,37 persen.
Kelompok ini sendiri mencatat deflasi sebesar 0,21 persen dan menjadi salah satu penyumbang utama penurunan harga pada Maret 2026.
Inflasi Melambat, Harga Pangan Masih Mendominasi
BPS juga mencatat bahwa tingkat deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.
Sementara itu, inflasi bulanan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41 persen, menurun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,68 persen.
Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95 pada Maret 2026, mencerminkan tetap adanya tekanan harga meski melambat.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan sebesar 1,07 persen dan kontribusi 0,32 persen.
Sejumlah komoditas yang mendorong inflasi antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, serta daging sapi.
Di sisi lain, selain emas, tarif angkutan udara juga menjadi penyumbang deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,48 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 0,94 persen.