Mudik Pakai Mobil dan Pesawat Sering Bikin Mual, Dokter Sarankan Duduk di Posisi Ini
17 March 2026, 06:15 WIB
Momen arus mudik saat Lebaran selalu dinantikan oleh banyak orang untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga. Namun, perjalanan panjang yang dilakukan saat mudik sering kali tidak berjalan sesuai harapan. Bagi sebagian orang, perjalanan yang jauh dapat memicu mabuk perjalanan, yang ditandai dengan gejala seperti mual, pusing, hingga muntah.
Agar perjalanan terasa lebih nyaman, penting bagi para pemudik untuk mengetahui beberapa tips agar tidak mengalami mabuk perjalanan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memilih posisi duduk yang tepat selama perjalanan.
Menurut dr. Citra Ariani, SpKP, MBiomed, seorang dosen di Fakultas Kedokteran IPB University, posisi duduk memiliki peran yang signifikan dalam mengurangi gejala mabuk perjalanan.
"Untuk perjalanan dengan kendaraan pribadi atau bus, duduk dekat jendela atau di kursi depan mobil dapat membantu mengurangi gejala mabuk perjalanan. Untuk perjalanan udara, tempat duduk di dekat sayap pesawat lebih disarankan," ujarnya, seperti yang dikutip dari Health Liputan6.com di ipb.ac.id pada Minggu, 15 Maret 2026.
Menurut Citra, posisi duduk yang tepat dapat membantu tubuh dalam menjaga keseimbangan antara informasi visual yang diterima mata dan sistem keseimbangan pada telinga. Ketidaksinkronan antara kedua informasi ini adalah penyebab utama seseorang mengalami motion sickness atau mabuk perjalanan.
Lebih Baik Mengemudi Sendiri Saat Mudik
Selain itu, Citra juga menyarankan agar pemudik mempertimbangkan untuk mengemudikan kendaraan sendiri, karena hal ini dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi sebagian orang.
Orang yang mengemudikan kendaraan umumnya lebih jarang mengalami mabuk perjalanan dibandingkan dengan mereka yang hanya menjadi penumpang.
"Jika terpaksa menjadi penumpang, pastikan untuk tetap melihat ke arah horizon atau ke depan. Selain itu, cukup tidur sebelum berangkat dan jaga agar tubuh tetap terhidrasi dengan meminum air putih yang cukup," ungkapnya.
Citra juga mengingatkan agar pemudik menghindari kebiasaan yang dapat memperburuk gejala mabuk perjalanan, seperti merokok atau mengonsumsi makanan berat sebelum berangkat.
"Hindari merokok dan makan makanan berat sebelum perjalanan karena bisa memperburuk gejala. Distraksi seperti berbicara atau mendengarkan musik juga dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman selama perjalanan," kata Citra.
Obat Antimabuk Perjalanan
Bagi beberapa orang, penggunaan obat antimabuk perjalanan dapat menjadi solusi yang efektif. dr. Citra menjelaskan bahwa obat ini bekerja dengan menekan sinyal yang menyebabkan ketidaksinkronan antara mata dan telinga di dalam otak.
Obat antimabuk yang banyak tersedia di pasaran umumnya mengandung dimenhidrinat, yang termasuk dalam golongan antihistamin dan dapat menimbulkan rasa kantuk.
Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC) menyarankan agar obat ini dicoba terlebih dahulu di rumah untuk mengetahui dosis yang tepat dan mengamati kemungkinan efek samping yang muncul.
Jika seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat antimabuk perjalanan tersebut.
Pilihan Alami untuk Mengatasi Mabuk Perjalanan
Selain menggunakan obat-obatan, terdapat metode alami yang dapat membantu meredakan gejala mabuk perjalanan. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mengonsumsi jahe, yang dikenal memiliki sifat menenangkan bagi lambung. Jahe dapat dinikmati dalam berbagai bentuk, seperti permen, minuman hangat, atau teh herbal, baik sebelum maupun selama perjalanan. "Menghirup minyak esensial dengan aroma jahe, lavender, atau peppermint juga dapat membantu sebagian orang. Namun perlu diingat, aroma tertentu justru bisa memperburuk mabuk perjalanan pada sebagian orang," ujar Citra.
Mabuk perjalanan atau motion sickness terjadi ketika otak menerima informasi yang tidak sesuai antara mata dan sistem keseimbangan di telinga. Gejala yang muncul bisa berupa pusing, mual, muntah, dan berkeringat dingin. Meskipun siapa saja dapat mengalami kondisi ini, terdapat beberapa kelompok yang lebih rentan. Di antara mereka adalah wanita, anak-anak berusia 2 hingga 12 tahun, serta individu yang memiliki riwayat vertigo atau migrain. Selain itu, faktor hormonal seperti menstruasi atau kehamilan juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya mabuk perjalanan.