Pasien TBC Boleh Mudik Kok, Asal Penuhi Syarat yang Dianjurkan Dokter Paru Ini
15 March 2026, 06:15 WIB
Pasien tuberkulosis atau TBC tidak dilarang untuk mudik saat Lebaran Idul Fitri. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perjalanan tetap aman dan tidak meningkatkan risiko penularan.
Dokter spesialis paru dan pernapasan, dr. Herman, Sp.P, FISR, mengatakan, pasien TBC tetap boleh melakukan aktivitas seperti biasa, termasuk pulang kampung, selama mengikuti langkah pencegahan yang dianjurkan.
"Khusus untuk pasien TB tidak ada larangan sama sekali untuk mudik karena kita tahu langkah pencegahannya seperti apa. Apabila pasien tersebut mau melakukan aktivitas termasuk mudik, maka kenakanlah masker," ujar Herman kepada Health Liputan6.com dalam konferensi pers di RS EMC Sentul, Bogor pada Jumat, 13 Maret 2026.
IDia bahkan mendorong pasien TBC untuk tetap aktif beraktivitas. Menurutnya, aktivitas yang terlalu dibatasi justru dapat berdampak pada penurunan sistem imun tubuh.
"Kalau aktivitasnya terlalu dibatasi malah imunnya bisa turun. Jadi silakan beraktivitas seperti biasa, asalkan wajib memakai masker, terutama dalam dua minggu pertama karena penularannya masih sangat tinggi," tambahnya.
Herman menambahkan bahwa risiko penularan TB memang mulai menurun setelah pasien menjalani pengobatan selama dua minggu. Meski demikian, penggunaan masker tetap dianjurkan hingga pemeriksaan dahak ulang dilakukan.
"Kalau belum dua bulan, saya tetap sarankan untuk mengenakan masker. Setelah dua bulan biasanya kita akan melakukan tes dahak ulang. Jika hasilnya sudah negatif, maka pasien sudah tidak menularkan lagi dan bisa beraktivitas seperti biasa tanpa masker," katanya.
Jika Pasien TB Terinfeksi Campak
Dalam kesempatan yang sama, Herman juga menyinggung meningkatnya kasus campak yang belakangan ini banyak ditemukan, terutama saat masa peralihan musim.
"Sekarang banyak kasus campak dan juga virus-virus lainnya. Memang pada saat pancaroba, virus cenderung lebih mudah menyebar," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa tuberkulosis dan campak disebabkan oleh agen penyakit yang berbeda. TB disebabkan oleh bakteri, sedangkan campak disebabkan oleh virus.
Karena itu, jika seseorang mengalami kedua penyakit tersebut secara bersamaan, maka pengobatan harus dilakukan secara terpisah sesuai penyebabnya.
"Keduanya harus diobati. TB dengan obat TB, sementara campak biasanya dengan antivirus," kata Herman.
Namun, Herman mengingatkan agar konsumsi obat tidak dilakukan bersamaan karena obat TBC sendiri memiliki efek samping yang cukup berat, terutama pada lambung.
"Obat TB efek sampingnya cukup banyak, biasanya ke lambung. Jadi kita sarankan diminum di waktu yang berbeda agar lambung tidak menjadi sakit," pungkasnya.
Reporter/Laporan:Ade Nasihudin Al Ansori