Buka Puasa Kerap Dijadikan Ajang Balas Dendam, Waspada Lonjakan Kadar Gula Darah
15 March 2026, 18:00 WIB
Lonjakan gula darah kerap terjadi saat buka puasa. Pasalnya, momen buka kerap dijadikan ajang "balas dendam" setelah seharian penuh menahan lapar dan haus.
Mengonsumsi makanan manis dalam porsi besar sekaligus saat buka puasa dapat menimbulkan perubahan mendadak pada tubuh. Ini membuat gula darah naik drastis.
Menurut dokter penyakit dalam Melisa Diah Puspitasari, saat berpuasa, tubuh mengalami penurunan kadar glukosa dalam darah. Sebagai responsnya, kadar insulin (hormon yang membantu penyerapan gula) juga ikut menurun, sementara itu tubuh mulai membakar energi cadangan di hati.
Kondisi ini membuat tubuh menjadi sangat sensitif terhadap gula. Jika langsung berbuka dengan makanan manis atau karbohidrat tinggi, terjadilah apa yang disebut sebagai "rebound sugar spike".
"Tubuh yang sedang dalam mode hemat energi tiba-tiba dibanjiri glukosa. Akibatnya, gula darah melonjak tinggi dalam waktu singkat karena tubuh belum sempat menyesuaikan produksi insulin secara bertahap," kata Melisa mengutip keterangan pers, Jumat (13/3/2026).
Dia menambahkan, ada dua faktor utama yang sering menjadi penyebab lonjakan gula darah, yakni:
- Konsumsi gula berlebih: Minuman es manis, sirup, kolak, dan gorengan tepung mengandung gula sederhana yang sangat cepat diserap oleh aliran darah.
- Makan porsi besar sekaligus: Mengonsumsi makanan berat dalam jumlah banyak langsung setelah maghrib memaksa sistem pencernaan dan pankreas bekerja ekstra keras secara mendadak.
Cara Cegah Gula Darah Melonjak Saat Buka Puasa
Agar tubuh tidak kaget dan gula darah tetap terkendali, ada strategi yang dapat diterapkan, yakni:
1. Makan bertahap: Jangan langsung makan berat. Awali dengan air putih dan asupan manis alami dalam porsi kecil.
2. Urutan makan yang benar: Cobalah makan serat (sayuran) atau protein terlebih dahulu sebelum makan nasi atau makanan manis. Serat membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah.
3. Hindari minuman dengan pemanis tambahan, ganti sirup atau es teh manis dengan air putih.
4. Kunyah lebih lama: Makan secara perlahan membantu otak menerima sinyal kenyang lebih cepat, sehingga terhindar dari makan berlebihan.
Menu Buka Puasa yang Aman
Melisa pun menjelaskan urutan menu yang bisa dicoba untuk menjaga stabilitas glukosa:
1. Pembuka: 1--2 butir kurma dan 2 gelas air putih. Kurma mengandung serat yang lebih baik daripada gula pasir biasa.
2. Jeda (setelah salat maghrib): Sup sayur bening atau salad kecil untuk mengisi perut dengan serat.
3. Makanan utama: Nasi merah atau kentang rebus (karbohidrat kompleks), dada ayam panggang atau tempe (protein).
Dokter yang berpraktik di Eka Hospital Bekasi menambahkan, bagi orang yang memiliki riwayat diabetes, kewaspadaan harus ditingkatkan dua kali lipat, yakni dengan:
1. Cek gula darah mandiri: Lakukan pengecekan secara rutin, terutama dua jam setelah berbuka dan sebelum sahur.
2. Konsultasi jadwal obat: Pastikan dosis obat atau insulin sudah disesuaikan oleh dokter untuk ritme puasa.
3. Jangan lewatkan sahur: Sahur yang bergizi mencegah merasa terlalu lapar saat berbuka, yang sering kali menjadi pemicu makan berlebihan.
Tanda Harus Segera Cari Bantuan Medis
Segera cari bantuan medis jika merasakan gejala hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi) setelah berbuka, seperti:
1. Rasa haus yang sangat ekstrem dan mulut terasa kering.
2. Sakit kepala hebat dan pandangan kabur.
3. Rasa lemas yang luar biasa atau mual-muntah, nyeri perut atau sesak napas.
4. Sering buang air kecil dalam jumlah banyak secara tidak wajar.
Menjaga kadar gula darah tetap stabil bukan hanya tentang kenyamanan saat berpuasa, tetapi juga tentang melindungi organ tubuh.
"Jika Anda memiliki kesulitan dalam mengatur pola makan atau ingin melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan fungsi metabolisme secara menyeluruh, tim medis kami siap membantu," pungkasnya.