IPB University Kembangkan Sistem OLAP Hotspot Karhutla, Lengkapi Sistem Milik Kemenhut
11 March 2026, 10:35 WIB
IPB University mengembangkan Sistem OLAP Hotspot Karhutla sebagai inovasi berbasis data untuk mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Sistem ini berhasil masuk menjadi salah satu 117 Inovasi Indonesia-2025 versi Business Innovation Center (BIC).
OLAP Hotspot Karhutla dikembangkan sebagai alat bantu untuk menganalisis data histori titik panas berdasarkan dimensi waktu, lokasi, dan tingkat kepercayaan titik panas. Ringkasan dan tren data titik panas tersebut diperlukan untuk memprediksi potensi adanya karhutla.
Selain itu, sistem ini memanfaatkan teknologi online analytical processing (OLAP), yakni teknologi analisis data yang digabungkan dengan pengelolaan data spasial.
Inovasi ini melengkapi Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi+) yang sebelumnya telah dikembangkan lebih dahulu, yaitu sistem pencegahan milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dengan kemampuan analisis data yang lebih mendalam.
Melalui pemanfaatan teknologi OLAP, sistem memungkinkan pengguna menelusuri dan menganalisis data histori hotspot secara fleksibel, baik berdasarkan lokasi, waktu, maupun parameter tertentu.
"Inovasi ini kami kembangkan untuk membantu pemangku kebijakan memahami pola dan tren hotspot karhutla," ujar Ketua Tim Peneliti dan Guru Besar Ilmu Komputer di Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika (SSMI) IPB University Imas Sukaesih Sitanggang dilansir dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Selasa 10 Maret 2026.
Ia juga menjelaskan, ketersediaan data saja tidak cukup apabila tidak diolah menjadi informasi yang bermanfaat bagi pengguna.
Keunggulan OLAP Hotspot Karhutla
Teknologi OLAP memungkinkan proses drill-down dan roll-up data secara dinamis, sehingga analisis dapat dilakukan dari level nasional hingga ke tingkat desa.
Adapun keunggulan lainnya adalah kemampuannya dalam mengintegrasikan data historis dan data terkini, sehingga dapat digunakan untuk analisis tren dan potensi kejadian karhutla.
Dengan hadirnya teknologi ini, Imas berharap sistem OLAP Hotspot Karhutla dapat memperkuat sistem peringatan dini karhutla di Indonesia serta mendukung upaya pencegahan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan analitik dan visualisasi interaktif, inovasi ini diharapkan dapat mendukung pencegahan karhutla yang lebih efektif.
Sistem ini memungkinkan para pemangku kebijakan mengidentifikasi wilayah dengan tingkat kebakaran tinggi berdasarkan pola kemunculan hotspot.
Informasi yang dihasilkan dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas pengawasan, penyiapan sumber daya, dan penyusunan strategi mitigasi karhutla dengan tepat sasaran di berbagai daerah.
Mengapa Kebakaran Rentan Terjadi?
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Indonesia memiliki sejarah panjang bencana karhutla dengan dampak lintas sektor dan lintas negara, mulai dari 1981 hingga 2023.
Oleh karena itu, sejak awal tahun 2025, Menteri Lingkungan Hidup (Menteri LH) Hanif Faisol Nurofiq menggerakkan langkah antisipatif bersama BMKG, BNPB, TNI/Polri, dan pemerintah daerah.
Prediksi puncak musim kemarau oleh BMKG yang terjadi antara Juni hingga Agustus pada tahun lalu juga mengharuskan pemerintah memfokuskan perhatian di wilayah rawan, terutama Sumatera Selatan (Sumsel), yang menjadi salah satu episentrum titik api nasional.
Menteri Hanif mengungkapkan bahwa sebagian besar karhutla tahun lalu justru terjadi di luar kawasan hutan dan bukan di lahan gambut.
Meski Provinsi Sumsel memiliki sekitar 2,1 juta hektare lahan gambut, yakni 23 persen dari total luas wilayah, data KLH/BPLH menunjukkan bahwa lokasi kebakaran banyak terjadi di lahan mineral.
Kemudian, ia menjelaskan bahwa lahan gambut dengan muka air stabil pada ambang 40 cm tidak mudah terbakar secara alami. Maka jika kebakaran tetap terjadi, penyebab utamanya hampir pasti adalah aktivitas manusia.