Eskalasi Ketegangan Iran dan AS: Eropa Rilis Peringatan Perjalanan bagi Warganya
28 February 2026, 13:36 WIB
Sejumlah negara Eropa pada Jumat (27/2/2026) mendesak warganya untuk meninggalkan atau menghindari perjalanan ke Iran dan beberapa wilayah Timur Tengah lainnya menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Imbauan ini disampaikan di tengah kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak pada keselamatan warga sipil dan operasional penerbangan di kawasan tersebut.
Pemerintah Inggris seperti dikutip dari kantor berita Xinhua menyatakan telah menarik sementara sebagian stafnya dari Iran, meskipun Kedutaan Besar Inggris tetap beroperasi secara jarak jauh. Pemerintah Inggris juga mengeluarkan peringatan agar warganya tidak melakukan perjalanan apa pun ke Iran.
Kementerian Luar Negeri Prancis mengeluarkan imbauan keamanan bagi warga negaranya untuk tidak bepergian ke Israel, Yerusalem, dan Tepi Barat. Peringatan tersebut didasarkan pada kemungkinan dampak regional dari situasi yang melibatkan Iran. Prancis juga memperingatkan potensi pembatalan atau penundaan penerbangan serta meminta warganya di wilayah terdampak untuk tetap waspada dan menghindari kerumunan.
Italia turut menyerukan agar warganya meninggalkan Iran dan meningkatkan kewaspadaan ekstrem di seluruh kawasan Timur Tengah. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Italia menyebut bahwa warga Italia yang berada di Iran untuk tujuan wisata atau yang keberadaannya tidak mendesak diminta segera meninggalkan negara tersebut. Italia juga sangat tidak menganjurkan perjalanan ke Irak dan Lebanon.
Jerman memperbarui panduan perjalanannya dengan memperluas imbauan agar tidak bepergian ke seluruh wilayah Israel. Sebelumnya, peringatan tersebut hanya berlaku untuk wilayah tertentu saja.
Kementerian Luar Negeri Polandia meminta warganya segera meninggalkan Iran, Israel, dan Lebanon. Polandia memperingatkan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah tidak stabil dan kemungkinan penutupan wilayah udara sipil dapat membuat penerbangan tidak memungkinkan atau mengalami gangguan serius.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Belanda meningkatkan status peringatan perjalanannya menjadi merah untuk wilayah perbatasan antara Israel dan Gaza, Lebanon, serta Mesir. Dalam pernyataannya, pemerintah Belanda menyebut bahwa akibat ketegangan saat ini di Timur Tengah, situasi keamanan di Israel tidak menentu. Pemerintah menegaskan agar siapa pun tidak melakukan perjalanan ke wilayah tersebut karena dinilai terlalu berbahaya.
Beberapa negara Eropa sebenarnya telah lebih dahulu mengeluarkan peringatan serupa. Pada Februari lalu, Kementerian Luar Negeri Finlandia memperbarui imbauan perjalanan dengan meminta warganya menghindari seluruh perjalanan ke Iran serta segera meninggalkan Yaman dan Libya.
Kementerian Luar Negeri Serbia juga telah meminta warganya di Iran untuk pergi sesegera mungkin. Sementara itu, pada Februari, Kementerian Luar Negeri Swedia menyatakan bahwa warga yang memilih tetap berada di Iran tidak dapat mengharapkan evakuasi yang disponsori pemerintah. Pernyataan tersebut memperbarui imbauan Januari sebelumnya yang meminta warga Swedia menghindari semua perjalanan ke Iran dan segera meninggalkan negara tersebut.
Pemicu Ketegangan
Ketegangan meningkat setelah kapal induk terbesar Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, tiba di lepas pantai Israel pada Jumat. Kedatangan kapal induk tersebut terjadi setelah putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss, tidak membuahkan hasil.
Dalam beberapa hari terakhir, pejabat senior AS berulang kali memperingatkan kemungkinan intervensi militer terhadap Iran. AS telah mengerahkan dua kelompok kapal induk, lebih dari 150 pesawat tempur termasuk jet tempur siluman F-35, serta memperkuat pangkalannya di Yordania dan Israel. Washington pun telah mengevakuasi staf non-esensial dari kedutaannya di Beirut.
Di sisi lain, Iran menyatakan akan membalas terhadap fasilitas militer AS di kawasan apabila terjadi serangan.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Belanda, eskalasi konflik di kawasan dapat menyebabkan pembatalan penerbangan dan penutupan wilayah udara dalam waktu lama. Risiko serangan drone dan rudal juga masih ada, dan situasi disebut dapat memburuk dengan cepat.