Wall Street Terguncang, Dow Anjlok 500 Poin
28 February 2026, 08:00 WIB
Wall Street ditutup melemah pada akhir pekan setelah laporan inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini menambah daftar kekhawatiran investor sepanjang bulan ini, mulai dari inflasi yang membandel hingga dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap ekonomi.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (28/2/2026), indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 521,28 poin atau 1,05% ke level 48.977,92. S&P 500 turun 0,43% menjadi 6.878,88, sedangkan Nasdaq Composite merosot 0,92% ke 22.668,21.
Sepanjang Februari, S&P 500 dan Nasdaq sama-sama berakhir di zona merah. Pelaku pasar semakin cemas terhadap dampak AI terhadap sejumlah industri dan perekonomian secara luas.
Kekhawatiran ini kian membesar setelah perusahaan fintech milik Jack Dorsey, Block, mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 4.000 karyawan atau hampir setengah dari total tenaga kerjanya.
Saham sektor keuangan dan sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi turut tertekan. Saham terkait kredit swasta kembali berada di bawah tekanan, menyusul kekhawatiran dampak dari kolapsnya penyedia kredit perumahan asal Inggris, Market Financial Solutions.
Saham Teknologi dan AI Terseret, Nvidia hingga Microsoft Melemah
Tekanan di Wall Street juga menghantam saham-saham teknologi dan perangkat lunak yang sepanjang bulan ini mencatat kinerja buruk. Salesforce dan Microsoft masing-masing turun lebih dari 2%, turut membebani pergerakan Dow.
Perusahaan keamanan siber Zscaler merosot 12% setelah pendapatan tangguhan dan tagihan kuartal fiskal kedua meleset dari ekspektasi pasar. CoreWeave bahkan anjlok 18% akibat panduan bisnis yang mengecewakan.
Nvidia melanjutkan pelemahan pascalaporan kinerjanya dengan penurunan 4% pada Jumat, setelah sehari sebelumnya juga terkoreksi lebih dari 5%. Padahal, banyak investor masih optimistis terhadap prospek produsen chip tersebut setelah membukukan kinerja kuartal keempat yang kuat dan siklus produk baru yang dinanti.
Pelaku pasar menilai penurunan saham Nvidia dipicu keraguan terhadap kesepakatan dengan OpenAI, sentimen negatif terhadap perdagangan bertema AI, serta skeptisisme apakah belanja modal besar-besaran untuk AI oleh perusahaan raksasa teknologi dapat bertahan dalam jangka panjang.
ETF iShares Expanded Tech-Software (IGV) tercatat turun hampir 10% sepanjang Februari, sehingga kerugian sejak awal tahun mendekati 23%. Nasdaq sendiri mencatat penurunan lebih dari 3% bulan ini, menjadi kinerja bulanan terburuk sejak Maret tahun lalu.
Inflasi Membandel, The Fed Dihadapkan Dilema Suku Bunga
Sentimen negatif pasar semakin kuat setelah indeks harga produsen (PPI) Januari, yang mengukur inflasi tingkat grosir, naik 0,5% secara bulanan. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni 0,3%.
Yang lebih mengkhawatirkan, PPI inti---yang tidak memasukkan harga pangan dan energi---melonjak 0,8%, jauh di atas ekspektasi kenaikan 0,3%.
kepala investasi di Integrated Partners Stephen Kolano menilai, laporan PPI ini menjadi komplikasi tambahan bagi investor. Selain kecemasan terhadap belanja modal AI dan potensi disrupsi industri, pasar juga dibayangi tekanan di sektor kredit swasta.
"Inflasi belum benar-benar teratasi," ujarnya.
Ia menambahkan kondisi ini menciptakan dilema bagi bank sentral Amerika Serikat dalam menentukan arah kebijakan. The Federal Reserve harus memilih antara memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau menahannya demi terus menekan inflasi.
"Kondisi ini hanya menambah ketidakpastian mengenai ke mana arah kebijakan akan bergerak sepanjang sisa tahun ini."
Kolano juga menyoroti pasar tenaga kerja sebagai sumber kekhawatiran lain. Meski pertumbuhan lapangan kerja bulan lalu melampaui ekspektasi, gelombang PHK mulai meningkat.
Bahkan, laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan jumlah PHK pada Januari menjadi yang tertinggi untuk bulan tersebut sejak krisis keuangan global.
"Saya tidak melihat tanda yang jelas bahwa tingkat pengangguran tidak akan bergerak lebih tinggi dalam waktu dekat," katanya.