Indonesia Optimalkan Investasi Hijau via JETP dan AZEC

12 February 2026, 17:07 WIB
Indonesia Optimalkan Investasi Hijau via JETP dan AZEC

Pemerintah Indonesia terus menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan transformasi investasi hijau dan dekarbonisasi nasional. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan mengamankan pendanaan internasional melalui skema Just Energy Transition Partnerships (JETP) dan Asia Zero Emission Community (AZEC).

Hingga saat ini, total dana yang telah dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi hijau mencapai 3,5 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan Rp 58,79 triliun jika dihitung dengan asumsi kurs Rp16.799 per dolar AS, menandakan progres nyata dari komitmen global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merinci alokasi pembiayaan hijau yang diterima Indonesia. Program JETP memberikan alokasi jumbo sebesar 21,4 miliar dolar AS, sementara inisiatif AZEC menyumbang alokasi senilai 500 juta dolar AS.

"Percepatan program AZEC dan JETP merupakan komitmen Indonesia untuk merealisasikan ekonomi hijau dan dekarbonisasi... Dari kedua program tersebut, kami sudah memanfaatkan hampir 3,5 miliar dolar AS," ujar Airlangga Hartarto di Jakarta, melansir Antara, Selasa 10 Februari 2026.

Selain mengandalkan mitra global, pemerintah juga menyiapkan alokasi APBN Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp 404,2 triliun. Dana ini ditujukan untuk penguatan ketahanan energi serta pengembangan ekonomi hijau demi masa depan yang berkelanjutan.

Infrastruktur Energi Hijau dan Hilirisasi

Infrastruktur Energi Hijau dan Hilirisasi

Untuk mewujudkan ketahanan energi, pemerintah tengah mempersiapkan sejumlah proyek hijau strategis. Salah satunya adalah pengembangan Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) serta Green Bond Development Facility (GBDF) yang pendanaannya didukung oleh JETP.

Pemerintah juga berupaya memaksimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang tercatat mencapai 3.686 Gigawatt (GW). Potensi besar ini akan didukung oleh pembangunan jaringan listrik hijau atau green supergrid sepanjang 70 kilometer.

Melalui Danantara Indonesia, pemerintah berkomitmen membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek berbasis teknologi waste-to-energy ini direncanakan akan memulai tahap konstruksi pada bulan Maret 2026 mendatang.

Airlangga juga menuturkan bahwa hilirisasi industri baterai kendaraan listrik dan panel surya terus ditingkatkan. Pengembangan bahan bakar nabati B40 hingga B50, Sustainable Aviation Fuels (SAF), serta hidrogen dan ammonia hijau juga menjadi fokus utama.

Penerapan teknologi penangkap karbon turut menjadi agenda prioritas dalam transisi energi ini. Teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) sedang ditingkatkan kapasitasnya untuk menekan emisi karbon secara efektif.

Dampak Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Dampak Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Pengembangan ekonomi hijau ini diproyeksikan mampu memberikan dampak signifikan bagi sektor ketenagakerjaan nasional. Pemerintah menargetkan penciptaan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru yang akan terealisasi hingga tahun 2029 mendatang.

Pencapaian target tersebut akan didukung melalui berbagai program pengembangan sumber daya manusia. Program magang dan pengembangan keterampilan berkelanjutan disiapkan untuk memastikan tenaga kerja siap menghadapi era industri hijau.

"Pemerintah berkomitmen untuk merealisasikan ketahanan energi sebagai prioritas utama nasional, seiring dengan penguatan ketahanan pangan," ucap Airlangga.

Contoh Infografis Hemat Energi (Hemat Energi di Rumah). Sumber : www.kominfo.go.id/
Sumber : Liputan6.com