Lampung Mulai Hilirisasi Ayam, Disiapkan Penuhi Kebutuhan MBG se-Sumatera
06 February 2026, 20:46 WIB
Pemerintah mulai merealisasikan program hilirisasi industri perunggasan di Provinsi Lampung melalui pembangunan ekosistem peternakan ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir. Proyek itu diproyeksikan menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lampung sekaligus menopang pasokan protein hewani untuk wilayah Sumatera.
Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian RI, Tri Melasari mengatakan, kehadiran negara dalam proyek itu bertujuan menjaga stabilitas pasokan sekaligus mendorong kemandirian daerah.
"Pada prinsipnya targetnya adalah pemenuhan MBG. Negara hadir untuk stabilisasi, supaya Lampung tidak harus mengimpor dari luar. Bahkan Lampung berpotensi menjadi penyumbang bagi provinsi lain," kata Tri saat groundbreaking program pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi, di Lampung Selatan, Lampung, Jumat (6/2/2026).
Dia bilang, ekosistem yang dibangun tetap melibatkan pelaku usaha, peternak mandiri, UMKM, koperasi, hingga BUMN dan BUMD.
Pemerintah berperan di sektor hulu seperti penyediaan DOC (bibit ayam), parent stock, dan pabrik pakan, sedangkan masyarakat berperan di sektor budidaya.
"Peternak dimudahkan akses DOC, pakan, sampai hilirnya. Hasil budidaya bisa dipotong di RPHU, lalu diserap offtaker BUMN/BUMD. Ini ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir," jelasnya.
Fasilitas Terlengkap di Lampung
Secara nasional, terdapat 323 unit proyek perunggasan terintegrasi. Untuk Lampung, fasilitas yang dibangun tergolong paling lengkap, meliputi pabrik pakan, parent stock ayam pedaging dan petelur, pengadaan DOC, Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), cold storage, hingga pabrik olahan telur.
"Berdasarkan estimasi kebutuhan MBG di Lampung, kebutuhan protein hewani per tahun mencapai : telur 24.429 ton dan daging ayam 35.830 ton. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan final stock petelur 1,4 juta ekor per tahun, final stock pedaging 29,5 juta ekor per tahun, parent stock petelur 14.697 ekor dan parent stock pedaging 213.853 ekor. Sementara kebutuhan pakan : ayam petelur 65.789 ton per tahun dan ayam pedaging 95.358 ton per tahun," sebutnya.
RPHU yang dibangun memiliki kapasitas pemotongan 2.000 ekor per jam dengan estimasi produksi daging 6.134 ton per tahun.
Tri menambahkan, hilirisasi itu juga mendukung kebijakan agar distribusi ayam keluar dari Lampung tidak lagi dalam bentuk live bird, melainkan karkas, sehingga memberi nilai tambah bagi peternak.
"Dari sisi dampak sosial, sektor peternakan ayam di Lampung diperkirakan menyerap sekitar 6.910 tenaga kerja, dengan asumsi peternak pedaging skala 5.000 ekor per kandang dan petelur 1.000 ekor per kandang.Program ini juga akan menopang 949 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dengan potensi penerima manfaat mencapai 2.847.277 orang di Lampung," katanya.
Investasi Rp680 Miliar oleh PTPN I
Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, mengatakan pihaknya mengalokasikan investasi tahap pertama sebesar Rp680 miliar di Lampung.
Fasilitas tersebut dibangun di lahan HGU PTPN I Regional 7 Kebun Kedaton, Afdeling Trikora, meliputi RPHU, cold storage, dan pabrik pakan. Tahap berikutnya akan dibangun hatchery serta parent stock untuk layer dan broiler.
"Industri ternak ayam terpadu di Trikora ini diproyeksikan mampu memproduksi 5.760 ton karkas per tahun untuk memenuhi kebutuhan protein di Sumatera," kata Teddy.Ia menyebut di Lampung akan dibangun tiga fasilitas utama yang dioperasikan PT Berdikari, yakni RPHU dan cold storage di lahan sekitar 5 hektare, parent stock di Kebun Bergen dengan kapasitas produksi 10 juta DOC per tahun, serta industri pakan.
"Ini membangun ekosistem ayam terintegrasi agar peternak di Lampung merasakan langsung manfaatnya. Ujungnya untuk menyuplai kebutuhan MBG," jelasnya.