Bayar Liburan Mewah Pakai Bitcoin? Tren Kripto di Kelas Atas

02 September 2025, 16:00 WIB
Bayar Liburan Mewah Pakai Bitcoin? Tren Kripto di Kelas Atas

Kenaikan nilai Bitcoin kini merambah sektor liburan mewah. Financial Times melaporkan hari ini bahwa perusahaan jet pribadi, jalur pelayaran, dan hotel butik mulai menerima pembayaran menggunakan kripto.

Dikutip dari yahoo Finance, Selasa (2/9/2025), FXAIR, anak perusahaan Flexjet, misalnya, kini menerima token kripto untuk perjalanan transatlantik senilai sekitar USD 80.000 atau sekitar Rp 1,3 miliar (estimasi kurs Rp 16.400 per USD).

Sementara itu, operator pelayaran Virgin Voyages menawarkan tiket tahunan seharga USD 120.000 atau sekitar Rp 1,9 miliar.

Masih menurut Financial Times, SeaDream Yacht Club dan jaringan hotel butik seperti The Kessler Collection kini juga menawarkan opsi pembayaran dengan kripto.

Segmen perjalanan mewah memang menjadi pasar ideal untuk transaksi kripto. Dengan nilai tagihan yang mencapai enam digit, biaya tambahan dan volatilitas tidak lagi menjadi kendala, karena penyedia layanan bisa langsung mengonversi pembayaran ke mata uang fiat.

Bagi pelanggan, membayar dengan Bitcoin juga membawa nilai status, mengingatkan pada era ketika belanja besar di pasar saham dilakukan untuk membeli Lamborghini atau jam tangan mewah.

Kali ini, "simbol status" itu hadir dalam bentuk jet pribadi yang menghemat waktu dan pelayaran eksklusif yang tak tertandingi.

Merealisasikan Keuntungan

Merealisasikan Keuntungan

Namun, dari sisi finansial, pertanyaannya berbeda. Kisah peringatan paling terkenal tentang Bitcoin terjadi pada 2010, ketika programmer Florida, Laszlo Hanyecz, menghabiskan 10.000 BTC untuk dua pizza---sebuah transaksi yang kini nilainya bisa lebih dari USD 1 miliar.

Pemesanan jet saat ini berpotensi menimbulkan penyesalan serupa jika harga Bitcoin terus naik.

Di sisi lain, sebagian orang melihat logika dalam segera menguangkan aset kripto mereka.

Dengan harga Bitcoin baru-baru ini mencapai rekor USD 124.128 atau sekitar Rp 2 miliar pada 14 Agustus, beberapa pemegang aset kaya mungkin melihat kenaikan ini sebagai kesempatan untuk merealisasikan keuntungan sebelum gejolak ekonomi menekan harga.

Tekanan inflasi akibat tarif impor baru AS, ditambah ketidakpastian ekonomi secara umum, berpotensi menurunkan BTC kembali di bawah USD 100.000 (sekitar Rp 1,6 miliar), sehingga belanja liburan mewah saat ini bisa dianggap sebagai strategi lindung nilai.

Antara Pajak dan Gaya Hidup Generasi Muda

Antara Pajak dan Gaya Hidup Generasi Muda

Penggunaan kripto sebagai alat pembayaran, terutama di sektor mewah, membawa konsekuensi pajak yang penting. Dinas Pendapatan Internal (IRS) Amerika Serikat mengategorikan kripto sebagai properti, bukan mata uang. Artinya, setiap kali Bitcoin dibelanjakan, transaksi tersebut dianggap sebagai penjualan yang berpotensi memicu pajak keuntungan modal. Aturan serupa juga diterapkan oleh Otoritas Pajak Inggris (HMRC) yang mengenakan pajak saat koin dijual, ditukar, atau digunakan untuk pembelian.

Secara lebih luas, penggunaan kripto ini didorong oleh wisatawan muda kaya. Menurut data McKinsey, pengeluaran mereka untuk perjalanan mewah diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat antara tahun 2023 dan 2028. Bagi generasi ini, kripto bukan hanya instrumen investasi, tetapi juga cara membayar pengalaman yang menawarkan kebebasan dan eksklusivitas.

Meskipun belum umum digunakan di tempat-tempat sehari-hari, aset digital seperti kripto sudah mulai mendapatkan tempat di pasar kelas atas. Apakah ini merupakan langkah cerdas dalam pengelolaan kekayaan atau kesalahan besar, semuanya akan bergantung pada seberapa lama tren bullish ini dapat bertahan.

Sumber : Liputan6.com