Alasan Presiden AS Donald Trump Terapkan Tarif Impor

03 April 2025, 23:24 WIB
Alasan Presiden AS Donald Trump Terapkan Tarif Impor

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif dagang terbaru. Pada Rabu waktu setempat, 2 April 2025, Trump mengumumkan penerapan tarif minimal 10 persen terhadap semua impor barang dari seluruh dunia.

Langkah ini memicu kekhawatiran akan perang dagang global yang lebih besar, mengingat tarif yang lebih tinggi juga diberlakukan terhadap negara-negara tertentu yang dianggapnya sebagai 'pelanggar terburuk'. Pengumuman ini disampaikan di Gedung Putih, di mana Trump menunjukkan poster yang menampilkan daftar tarif baru untuk berbagai negara.

Tarif dasar 10 persen akan mulai berlaku pada 5 April 2025, sementara tarif timbal balik yang lebih tinggi, hingga lebih dari 50 persen untuk beberapa negara, akan diterapkan mulai 9 April 2025. Langkah ini dianggap sebagai perubahan besar dalam norma perdagangan global sejak Perang Dunia Kedua. Trump menilai, kebijakan ini ditujukan untuk melawan praktik perdagangan tidak adil yang selama ini merugikan Amerika Serikat.

Mengutip BBC, Donald Trump menuturkan, tindakan itu merupakan balasan atas kebijakan perdagangan yang tidak adil. Ia juga menambahkan kalau tindakannya sangat baik dalam mengambil keputusan.

Donald Trump menuturkan, tarif akan dipakai untuk meningkatkan manufaktur AS. Langkah tersebut juga akan membuat AS kembali kaya.

Tarif merupakan bagian utama dari visi ekonomi Trump. Ia menuturkan, tarif adalah kata favoritnya dan telah lama menjadi kritik perjanjian perdagangan bebas internasional.

Alasan Lainnya

Donald Trump menilai, tarif akan mendorong konsumen AS untuk membeli lebih banyak barang buatan AS sehingga meningkatkan ekonomi negara dan meningkatkan jumlah pajak yang dikumpulkan.

Donald Trump juga ingin perkecil kesenjangan antara nilai barang yang diimpor AS dan barang yang diekspor ke negara lain. Ia menilai, AS telah dimanfaatkan dan dijarah oleh orang asing.

Misalnya AS mengalami defisit perdagangan USD 213 miliar dengan Uni Eropa pada 2024. Tarif pertama yang diumumkan Trump selama masa jabatan presiden saat ini menargetkan mitra dagang utama AS yakni China, Meksiko dan Kanada.

Ia menuturkan ingin berbuat lebih banyak untuk hentikan migran dan narkoba mencapai AS. Trump memberlakukan tarif 10% untuk barang-barang Cina, yang kemudian digandakan menjadi 20%.

Ia mengumumkan tarif 25% untuk barang-barang dari Meksiko dan Kanada, dan tarif 10% untuk impor energi Kanada, meskipun tarif tersebut telah ditunda dan diubah.

Ia juga telah memberlakukan tarif 25% untuk semua impor baja dan aluminium, dan tarif 25% untuk semua mobil buatan luar negeri - dengan tarif 25% untuk suku cadang mobil yang akan diberlakukan di kemudian hari.

Trump sebelumnya menolak untuk mengesampingkan kemungkinan resesi sebagai akibat dari kebijakan perdagangannya. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan tarif "layak" meskipun menyebabkan kemerosotan ekonomi.

Apa Itu Tarif dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Apa Itu Tarif dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Mengutip BBC, tarif merupakan pajak tambahan yang dikenakan pada baranng yang diimpor dari negara lain. Biasanya tarif adalah persentase dari nilai suatu prodik. Misalkan tarif 25 persen pada produk seharga USD 10, akan berarti biaya tambahan sebesar USD 2,50.

Perusahaan yang membawa barang asing ke negara tersebut harus membayar pajak kepada pemerintah.

Perusahaan dapat memilih untuk membebankan sebagian atau seluruh biaya kepada pelanggan, atau dapat memutuskan untuk mengimpor lebih sedikit barang asing.

Respons China

Respons China

Kementerian Perdagangan (Kemendag) China mendesak Amerika Serikat (AS) untuk "segera membatalkan" tindakan tarif sepihaknya dan berjanji mengambil "tindakan balasan yang tegas' untuk melindungi hak dan kepentingannya sendiri. Hal ini setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan apa yang digambarkan oleh analis sebagai kenaikan tarif paling tajam dalam satu abad.

"AS telah menarik apa yang disebut resiprokal tarif atau tarif timbal balik berdasarkan penilaian subjektif dan sepihak, yang bertentangan dengan aturan perdagangan internasional dan secara serius merusak hak dan kepentingan yang sah dari pihak-pihak terkait," ujar Juru Bicara Kementerian Perdagangan dikutip dari CNBC.

Pejabat China itu menggambarkan keputusan pemerintahan Trump mengenakan tarif timbal balik sebagai "praktik intimidasi sepihak yang khas". Selain itu, banyak negara telah menyatakan ketidakpuasan yang kuat dan penentangan yang jelas.

Pernyataan itu muncul setelah Donald Trump mengenakan tarif yang tinggi pada banyak negara termasuk 34 persen pada China, 20 persen kepada Uni Eropa, 46 persen kepada Vietnam dan 32 persen untuk Taiwan.

Tarif itu akan menjadi tambahan dari tarif 20 persen yang berlaku saat ini atas impor AS dari China, sehingga total tarif efektif menjadi 54 persen, efektif mulai 9 April, mendekati janji kampanye Trump untuk tarif 60 persen.

"Estimasi awal mengindikasikan tindakan menyeluruh tersebut dapat menaikkan rata-rata tarif AS ke tingkat yang tidak pernah terlihat sejak awal abad ke-20," ujar APAC Chief Market Strategist JPMorgan Asset Management, Taui Hui.

Ia juga mengingatkan pengumuman kebijakan perdagangan dapat membebani pertumbuhan global.

Sumber : Liputan6.com