Respons Pemimpin Eropa terhadap Tarif Dagang Donald Trump

03 April 2025, 22:34 WIB
Respons Pemimpin Eropa terhadap Tarif Dagang Donald Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif dagang baru pada Rabu, 2 April 2025 yang guncang perdagangan dunia. Kebijakan ini memberlakukan tarif 10% untuk semua barang impor ke AS, dengan tarif lebih tinggi hingga lebih dari 50% untuk beberapa negara.

Pengumuman ini menimbulkan kekhawatiran akan meletusnya perang dagang global skala besar. Kebijakan ini merupakan perubahan terbesar dalam norma perdagangan global sejak Perang Dunia Kedua.

Donald Trump menilai tarif ini bertujuan untuk mengatasi praktik perdagangan tidak adil yang telah merugikan AS selama beberapa dekade. Ia menyatakan bahwa pungutan ini merupakan langkah yang diperlukan untuk melindungi industri dalam negeri dan lapangan kerja Amerika Serikat. Namun, langkah ini menuai kritik dari berbagai negara dan organisasi internasional yang menilai kebijakan ini sebagai proteksionis dan berpotensi merusak perekonomian global.

Tarif impor universal 10% akan mulai berlaku pada 5 April, sementara tarif timbal balik (reciprocal tariffs) untuk negara-negara tertentu akan dimulai pada 9 April. Pengenaan tarif ini memicu ketidakpastian di pasar global, karena banyak perusahaan yang bergantung pada impor dan ekspor barang antar negara.

Chief Commission European atau Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen menilai, keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengenakan tarif baru pada semua barang yang masuk ke AS merupakan pukulan telak bagi ekonomi dunia.

Selain Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen, China juga merespons kebijakan perdagangan AS. China menentang langkah AS dan memperingatkan akan mengambil tindakan balasan yang tegas terhadap AS. Demikian mengutip BBC, Kamis (3/4/2025).

Reaksi Pemimpin Eropa

Reaksi Pemimpin Eropa

Sekitar 60 negara juga akan dikenakan tarif lebih tinggi mulai 9 April 2025. Von der Leyen menuturkan, pajak impor baru akan menyebabkan ketidakpastian meningkat. Hal ini akan berdampak terhadap jutaan orang di seluruh dunia. Ia menekankan dampaknya pada negara-negara yang paling rentan, dengan menunjukkan beberapa negara sekarang dikenakan beberapa tarif AS tertinggi.

Von der Leyen berjanji Eropa akan mengambil pendekatan terpadu dan memperingatkan kalau Uni Eropa yang akan dikenakan tarif 20 persen sedang mempersiapkan tindakan balasan jika negosiasi gagal. "Jika Anda melawan salah satu dari kami, Anda melawan kami semua," tutur dia.

Kepala Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa Bernd Lange menuturkan, negosiasi antara berbagai negara anggota Uni Eropa akan dimulai pekan depan.

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni menuturkan, keputusan itu "salah". Namun, ia akan berupaya mencapai kesepakatan dengan AS untuk cegah perang dagang.

Selain itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sachez menuturkan, Spanyol akan terus berkomitmen pada dunia yang terbuka.

Perdana Menteri Irlandia, Taoiseach Micheal Martin mengatakan, keputusan Trump sangat disesalkan dan tidak menguntungkan siapapun.

Presiden Prancis Emmanuel Macron akan bertemu dengan perwakilan dari sektor bisnis yang terkena dampak pajak baru di Istana Elysee pada Kamis pekan ini. Juru bicara pemerintah Sophie Primas menuturkan, Prancis siap untuk perang dagang ini.

Lewat unggahan di platform X dahulu bernama Twitter, pemimpin Polandia Donald Tusk menuturkan, tarif itu dapat sebabkan kerugian negaranya lebih dari USD 2,6 miliar. Selain itu, penerapan tarif juga pukulan berat dan tidak menyenangkan.

Dampak Kebijakan Dagang AS

Dampak Kebijakan Dagang AS

Kebijakan tarif baru Trump ini merupakan contoh nyata dari proteksionisme, yaitu kebijakan ekonomi yang bertujuan melindungi industri dalam negeri dengan membatasi impor. Meskipun Trump berdalih untuk melindungi pekerja AS, banyak ekonom yang meragukan efektivitas kebijakan ini dan justru memprediksi akan terjadi kerugian ekonomi yang lebih besar.

Beberapa pakar berpendapat bahwa kebijakan ini akan memicu perang dagang yang merugikan semua pihak yang terlibat. Retaliasi dari negara-negara lain dapat menyebabkan penurunan ekspor AS dan kenaikan harga barang bagi konsumen Amerika. Selain itu, kebijakan ini juga dapat mengganggu rantai pasokan global dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Berikut beberapa poin terkait dampak potensial kebijakan tarif dagang Trump yang dikutip dari berbagai sumber:

Kenaikan Harga Barang: Konsumen di AS kemungkinan akan menghadapi kenaikan harga barang impor.

Penurunan Perdagangan Internasional: Volume perdagangan internasional diperkirakan akan menurun.

Retaliasi dari Negara Lain: Negara-negara lain mungkin akan menerapkan tarif balasan terhadap barang-barang AS.

Gangguan Rantai Pasokan: Rantai pasokan global dapat terganggu.

Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi: Pertumbuhan ekonomi global berpotensi melambat.

Sumber : Liputan6.com