Tanggapan Pengamat Terkait Persiapan Mudik Lebaran Pemerintah

03 April 2025, 22:04 WIB
Tanggapan Pengamat Terkait Persiapan Mudik Lebaran Pemerintah

Pengamat Transportasi dari Institut Studi Transportasi (INSTRAN), Darmaningtyas menilai persiapan pemerintah dalam menyambut arus mudik Lebaran tahun ini terasa cukup berlebihan.

"Terkait dengan persiapan pemerintah menyambut persiapan mudik lebaran terasa cukup berlebihan," kata Darmaningstyas, Kamis (3/4/2025).

Hal ini didasarkan pada hasil survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan yang memperkirakan sekitar 146 juta orang berpotensi melakukan perjalanan mudik. Berdasarkan hasil survei tersebut, pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan merumuskan kebijakan penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran.

Namun, Darmaningtyas menyoroti kebijakan yang diambil lebih banyak bertumpu pada hasil survei semata, tanpa mempertimbangkan evaluasi lapangan terhadap pelaksanaan mudik tahun sebelumnya maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat saat ini.

"Sayang dalam perumusan kebijakan ini hanya mendasarkan hasil survei saja, tidak mendasarkan pada evaluasi lapangan pelaksaan mudik lebaran 2024 maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, jika mengacu pada evaluasi arus mudik Lebaran 2024 serta kondisi ekonomi nasional, jumlah pemudik diperkirakan tidak akan sebanyak yang diproyeksikan dalam survei.

Soroti Kebijakan Pelarangan Operasional Truk selama Mudik Lebaran

Oleh karena itu, menurut dia, persiapan yang dilakukan tidak perlu berlebihan, termasuk kebijakan pelarangan kendaraan truk sumbu tiga selama 16 hari yang dinilai terlalu panjang.

"Bila mendasarkan pada hasil evaluasi arus mudik Lebaran 2024 dan kondisi perekonomian nasional, maka persiapannya tidak perlu berlebih, karena pasti jumlah pemudik akan turun, sehingga pelarangan kendaraan truk sumbu tiga yang terlalu panjang (16 hari) pun tidak diperlukan," katanya.

Pelarangan kendaraan truk dalam jangka waktu lama tidak hanya berdampak pada kinerja ekonomi nasional, tetapi juga berimbas pada pendapatan para pengusaha dan awak truk.

Akibatnya, mereka kehilangan sumber penghasilan dalam periode tersebut, yang pada akhirnya juga menghambat mereka untuk bisa ikut merayakan Lebaran di kampung halaman.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih seimbang dalam menyusun kebijakan mudik, dengan mempertimbangkan data empiris dari tahun sebelumnya dan kondisi ekonomi aktual, agar kebijakan yang diterapkan lebih tepat sasaran dan tidak merugikan pihak tertentu.

Faktor Penyebab Penurunan Jumlah Pemudik

Faktor Penyebab Penurunan Jumlah Pemudik

Dia menuturkan, terdapat beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap fenomena ini, diantaranya efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah, ketidakpastian ekonomi dan adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"Penurunan jumlah pemudik tahun 2025 ini sebetulnya sudah penulis prediksikan sejak sebelum puasa, ketika pemerintah menerapkan kebijakan efesiensi anggaran," ujarnya.

Menurut Darmaningtyas, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan sejak awal tahun 2025 berdampak luas, terutama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Lantaran, banyak ASN muda yang memiliki tanggungan cicilan rumah dan kendaraan akhirnya memilih untuk tidak mudik, mengingat dalam tiga bulan terakhir mereka tidak memperoleh tambahan penghasilan dari perjalanan dinas atau kegiatan seremonial.

"ASN-ASN muda, yang masih punya tanggungan anggsuran rumah dan kendaraan, pasti memilih tidak mudik, karena selama 3 bulan terakhir mereka tidak mendapatkan tambahan penghasilan, baik dari perjalanan dinas ataupun kegiatan seremonial, dan konsultansi," ujarnya.

Sektor Swasta

Di sektor swasta juga menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan. Banyak perusahaan yang melakukan PHK, sementara sektor perhotelan dan tempat hiburan mengalami penurunan jumlah pengunjung. Akibatnya, banyak pekerja yang memilih menghemat pendapatan mereka untuk kebutuhan pokok ketimbang melakukan perjalanan mudik.

"Hotel hotel dan tempat tempat hiburan juga sepi penggunjung dan ini dampaknya pada turunnya kesejahteraan karyawan sehingga mereka tidak bisa mudik, mereka lebih baik menghemat pendapatnya untuk kelangsungan hidup berikutnya sambil menunggu kepastian nasib mereka," pungkasnya.

<p>Infografis Aturan Berkendara Saat Arus Mudik dan Balik Lebaran 2025. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)</p>
Sumber : Liputan6.com